TEKNIK PEMBENIHAN NILA GIFT SECARA MASSAL DAN PEMBESARAN DI TAMBAK
Dayat Bastiawan dan Abdul Wahid
Balai Penelitian Perikanan Air Tawar
I. PENDAHULUAN
Secara genetik ikan nila GIFT ( Genetic Improvement for Farmed Tilapia ) telah terbukti memiliki keunggulan pertumbuhan dan produktivitas yang lehih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan nila lain. Selain itu, ikan nila mempunyai sifat omnivora, sehingga dalam budidayanya akan sangat efisien, dalam biaya pakannya rendah. Padahal Komponen biaya pakan dalam usaha budidaya mencapai 70% dari biaya produksi. Sebagai perbandingan nilai efisiensi pakan atau konversi pakan ( Food Conversion Ratio ), ikan nila yang dibudidayakan di tambak atau karamba jaring apung adalah 0,5 - 1,0 ; sedang ikan mas sekitar 2,2 - 2,8.
Pertumbuhan ikan nila jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda, nila jantan 40% lebih cepat dari pada nila betina. Disamping itu, yang betina apabila sudah mencapai ukuran 200 g pertumbuhannya semakin lambat, sedangkan yang jantan tetap tumbuh dengan pesat. Hal ini akan menjadi kendala dalam memproyeksikan produksi. untuk mengantisipasi kendala ini, saat ini sudah dilakukan proses jantanisasi atau membuat populasi ikan menjadi jantan semua ( Sex-reversal ) yaitu dengancara pemberian hormon 17 Alpa methyltestosteron selama perkembangan larva sampai umur 17 hari.
Pembenihan ikan nila dapat dilakukan secara massal di perkolaman secara terkontrol ( pasangan ) dalam bak-bak beton. Pemijahan secara massal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hampir sama.
Pembesaran ikan nila dapat dilakukan di kolam, karamba jaring apung atau di tambak. Budidaya nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, di karamba jaring apung 1.000 kg/unit (50 m2)/panen (200.000 kg/ha/panen), dan di tambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen.
Ada segi positif dari budidaya ikan nila di tambak yaitu pertumbuhannya lebih cepatdibandingkan di kolam atau di jaring apung. Ikan nila ukuran 5-8 cm yang dibudidayakan di tambak selam 2,5 bulan dapat mencapai 200 g, sedangkan di kolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 4 bulan.
Tekstur daging ikan nila memiliki ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya. Apabila dipelihara di tambak akan lebih kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur. Oleh kerena itu, ikan nila layak untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industri fillet dan bentuk-bentuk olahan lain.
A. Pembenihan
Lahan atau kolam untuk pembenihan nila dibagi dalam dua kelompok yaitu kolam pemijahan dan kolam pendederan. Kolam-kolam sebaiknya dibuat dengan pematang yang kuat , tidak porous ( rembes ), ketinggian pematang aman ( minimal 30 cm dari permukaan air ), sumber pemasukan air yang terjamin kelancarannya, dan luas kolam masing - masing 200 m2. Di samping itu perlu di perhatikan juga keamanan dari hama pemangsa ikan seperti anjing air, burung hantu, kucing dan lain-lain, sehingga dianjurkan agar agar lingkungan perkolaman babas dari pohon pohon yang tinggi dan rindang, sementara sinar matahari pun dapat masuk ke dalam kolam.
Induk ikan nila mempunyai bobot rata-rata 300 g/ekor. perbandingan betina dan jantan untuk pemijahan adalah 3:1 dengan padat tebar 3 ekor /m2. Pemberian pakan berbentuk pellet sebanyak 2% dari bobot biomassa per hari dan diberikan tiga kali dalam sehari. Induk ikan ini sebaiknya didatangkan dari instansi resmi yang melakukan seleksi dan pemuliaan calon induk diantaranya Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Sukamandi, sehingga kualitas kemurnian dan keunggulannya terjamin.
Induk nila betina dapat matang telur setiap 45 hari. Setiap induk betina menghasilkan larva ( benih baru menetas ) pada tahap awal sekitar 300 g sebanyak 250-300 ekor larva. Jumlah ini akan meningkat sampai mencapai 900 ekor larva sesuai dengan pertambahan bobot induk betina ( 900 g ). Setelah selesai masa pemijahan dalam satu siklus ( 45 hari ), induk-induk betina diistirahatkan dan dipisahkan dari induk jantan selama 3-4 minggu dan diberi pakan dengan kandungan protein diatas 35 %.
Setelah dua minggu masa pemeliharaan adaptasidi kolambiasanya induk-induk betina mulai ada yang beranak, menghasikan larva yang biasanya masih berada dalam pengasuhan induknya. Larva -larva tersebut dikumpulkan denga cara diserok memakai serokan yang terbuat dari kain halus dan selanjutnya ditampung dalam happa ukuran 2 x 0,9 x 0,9 m3. Pengumpulan larva dilakukan beberapa kali dari pagi sampai sore, dan duusahakan larva yang terkumpul satu hari ditampung minimal dalam satu happa.
B. Jantanisasi Benih.
Untuk mendapatkan benih ikan nila tunggal kelamin jantan ( monoseks ) maka dilakukan proses jantanisasi. Untuk keperluan ini diperlukan minimal 24 buah happa ukuran masing-masing 2 x 2 x 2 m3 yang ditempatkan dalam kolam dengan luas kurang lebih 400 m2 dan kedalam air minimal 1,5 m. Kedalam setiap hapa dapat diisi larva ikan sebanyak 20.000-30.000 ekor . Larva diberi pakan berbentuk tepung yang telah dicampur dengan hormon 17 Alpha Methyl Testosteron sampai masa masa pemeliharaan selama 17 hari.
Larva hasil proses jantanisasi selanjutnya dipelihara dalam kolam pendederan berukuran 200 m2. Kolam sebelumnya harus dikeringkan, lumpurnya dikeduk, diberi kapur sebanyak 50 g/m2, dan diberi pupuk kotoran ayam sebanyak 250 g/m2. Setelah pengapuran dan pemupukan, kolam diisi secara perlahan-lahan sampai ketinggian air sekitar 70 cm, digenangi selama 3 hari, diberi pupuk urea dan TSP masing -masing sebanyak 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2. Setelah kolam pendederan terisi air selam 7 hari, benih ikan hasil proses jantanisasi dimasukkan dengan kepadatan 250 ekor/m2. Pemberian pakan tambahan dapat dilakukan dengan pakan berbentuk tepung yang khusus untuk benih ikan. Pemupukan ulang dengan urea dan dan TSP dilakukan seminggu sekali dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2 kolam dan diberikan selama pemeliharaan ikan.
Setelah masa pemeliharaan 21 hari, ikan denga bobot rata-rata 1,25 g ( ukuran panjang 3-5 cm ) bisa dipanen. Untuk panen benih ikan nila sebaiknya digunakan jaring eret pada pengankapan awal. Bila jumlah ikan dalam kolam diperkirakan tinggal sedikit baru dilakukan pengeringan airnya.
Ikan mempunyai daya tahan yang baik selama diangkut apabila perutnya dalam keadaan kosong dan suhu air media relatif dingin. Karena itu apabila akan panen dan diangkut sebaiknya ikan tidak diberi makan minimal 1 hari. Pengangkutan menggunakan kantong plastik, dimana seper empat bagian berisi air dan tiga per empat bagian berisi oksigen murni yang diberi es balok ukuran 20 x 20 x 20 cm3 ( es balok berada dalam media air bersama benih ikan ). Kantong plastik dengan volume 20 L bisa diisi ikan ukuran 5 cm maksimal 1.500 ekor/kantong, dengan lama masa toleransi dalam kantong sekitar 10 jam.
C. Pembesaran di Tambak
Usaha pembesaran ikan nila di tambak dengan sistem monokultur, mempunyai sasaran produksi untuk pasar domestik maupun ekspor.
Untuk pembesaran nila di tambak, yang pertama dilakukan adalah tambak diperbaiki pematangnya, saluran air dan pintu-pintu airnya. Lumpur dasar tambak diangkat, selanjutnya tambak dikeringkan, sehingga semua hama ikan yang suka mengganggu bisa musnah. Pengapuran dilakukan dengan takaran 50 g/m2 dan pemupukan dengan pupuk kandang sebanyak 250 g/m2. Kemudian tambak diisi air sampai ketinggian 70 cm, setelah tiga hari dilakukan pemupukan dengan urea dan TSP dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2. Pada awal pengisian air diusahakan kadar garamnya sekitar 5 ppt dan selanjutnya bisa dinaikan selam masa pemeliharaan sampai 15 ppt.
Benih yang ditebar sebaiknya berukuran + 1,25 g ( panjang 3-5 cm ) dengan ukuran yang seragam dan sehat ditandai dengan warna cerah, gerakan yang gesit dan responsif terhadap pakan. Untuk target panen ukuran rata-rata 15 g/ekor (+ 1 bulan ), padat penebaran sebanyak 20 ekor/m2. Sedangkan untuk terget panen ukuran 500 g/ekor (+ 6 bulan pemeliharaan), padat penebaran sebanyak 4 ekor/m2.
Selama masa pemeliharaan ini ikan diberi pakan tambahan berbentuk pelet sebanyak 3%-5% per hari dari biomassa, dan diberikan dengan frekuensi tiga kali sehari, pakan tersebut harus berkualitas dengan komposisi protein minimal 25% ( Lampiran 2 ).
Pada awal pemeliharaan, ketinggian air dipertahankan minimal 70 cm, dan bila masa pemeliharaan telah telah mencapai dua bulan ketinggian air dinaikan, sehingga menjelang pemeliharaan empat bulan ketinggian diusahakan mencapai 1,5 m.
Pemupukan ulang dengan pupuk kandang dilakukan dua bulan sekali dengan takaran 250 g/m2, sedangkan pemupukan ulang urea dan TSP dilakukan setiap minggu dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2 selama masa pemeliharaan.
Dengan target produksi ukuran 500 g atau lebih per ekor terutama diperlukan untuk produksi fillet, maka masa pemeliharaan adalah sekitar enam bulan. Pemanenan dilakukan dengan cara disusur dari ujung menggunakan jaring seser. Bila dirasakan populasi ikan dalam tambak sudah tinggal sedikit, baru air tambak dikeringkan. Diusahakan ikan hasil tangkapan harus dalam keadaan segar dan prima. Selainitu, untuk pasar ekspor komoditas nila ini diperlukan penanganan yang lebih hati-hati terutama sekali dari aspek higienis dan penampilan produk.
Untuk keperluan konsumsi lokal umumnya ikan dengan ukuran rata-rata 200 g/m2 sudah dapat dipasarkan dalam keadaan segar. Dalam proses penyimpanan, pengankutan dan pemasaran dapat menggunakan es sebagai media untuk mempertahankan kesegaran ikan.
TEKNOLOGI UNTUK MEMPRODUKSI IKAN MAS UNGGUL
Arland
Mon, 06 Feb 2006 18:53:24 -0800
TEKNOLOGI UNTUK MEMPRODUKSI IKAN MAS UNGGUL
Oleh : Muhammad Husni Amarullah, Ratu Siti Aliah, Irvan Faizal dan Dody Irawan
Ikan mas (Cyprinus carpio), merupakan jenis ikan konsumsi yang sangat populer. Lebih dari 10 strain ikan mas dapat ditemukan di Indonesia diantaranya adalah 1) punten, 2) majalaya, 3) domas, 4) kaca, 5) kancra domas, 6) sinyonya, 7) merah, 8) kumpai, 9) lokal, 10) rajadanu, 11) jogya, 12) kuningan, dsb. Permintaan yang tinggi terhadap jenis ikan ini serta antusiasnya usaha budidaya telah menyebabkan terjadinya pengembangbiakan antar strain yang tidak terkontrol. Kejadian ini telah berlangsung ber tahun-tahun dan akibatnya kualitas benih yang dihasilkan menurun, ikan mudah terserang penyakit, dalam satu stok ukurannya beragam, pertumbuhan lambat, kurang adaptif terhadap lingkungan dan hal-hal lain yang sering dikeluhkan petani budidaya ikan. Dengan kata lain, pada ikan mas telah terjadi penurunan genetik.
Teknik Triploidisasi dan Ginogenesis
Pemeliharaan ikan yang lebih cepat tumbuh ataupun lebih efisien dalam laju konversi pakan menjadi daging akan lebih menguntungkan secara usaha budidaya. Disamping itu penampilan ikan pada masa perkembangan gonad pada umumnya menurun sehingga mempengaruhi nilai jual.
Triploidisasi merupakan salah satu teknik untuk menghambat berkembangnya organ reproduksi, sehingga pertumbuhan ikan tidak terhambat karena energi metabolisme yang digunakan untuk perkembangan gonad dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pertum-buhan sel-sel somatik. Di negara maju teknik triploidisasi telah diterapkan pada beberapa jenis ikan terutama golongan salmonid dan flatfish.
Selain itu, untuk memperoleh hibrida-hibrida yang memiliki sifat unggul, diperlukan ikan-ikan yang bergalur murni sebagai bahan baku utama. Ikan-ikan bergalur murni dapat diperoleh dengan dua cara yaitu 1) seleksi dengan teknik sib-mating (perkawinan sekerabat) dan 2) teknik ginogenesis buatan. Pada teknik pertama, diperlukan waktu lebih lama untuk menghasilkan ikan bergalur murni yaitu lebih dari 10 generasi. Sedangkan pada teknik ginogenesis ikan bergalur murni dapat dihasilkan dalam waktu yang lebih singkat yaitu dua atau tiga generasi. Ginogenesis yang dimaksud adalah bentuk khusus dari parthenogenesis, dimana nukleus sperma yang masuk ke dalam telur dalam keadaan tidak aktif, sehingga perkembangan telur hanya dikendalikan oleh sifat genetik dari individu betina, atau dengan kata lain terbentuknya zigot tanpa peran material genetik gamet jantan.
Pengkajian teknik ginogenesis telah diterapkan oleh BPPT terhadap jenis ikan mas (Cyprinus carpio) pada strain majalaya, sinyonya dan punten. Sedangkan teknik triploidisasi pada ikan mas pada skala laboratorium ataupun skala terbatas telah dilakukan di Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas individu ikan. Kedua teknik tersebut akan dipaparkan secara praktis dalam tulisan ini.
Jumat, 23 Juli 2010
BUDIDAYA IKAN KARPER
BUDIDAYA IKAN KARPER (CIPRINUS CARPIO)
Common carp
Status konservasi: Aman
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Cypriniformes
Familia: Cyprinidae
Genus: Cyprinus
Spesies: carpio
Nama binomial
Cyprinus carpio
Linnaeus
Sistematika dan Morfologi
Di Indonesia, ikan karper memiliki beberapa nama sebutan yakni ikan mas, kancera, tikeu, tombro, raja, rayo, ameh atau nama lain sesuai dengan daerah penyebarannya.
Ahli perikanan Dr. A.L Buschkiel dalam RO. Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan karper menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis karper yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sisrip memanjang. Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan karper yang bersisik biasa dan kedua, bersisik kecil.
Sedangkan Djoko Suseno (2000) mengemukakan, berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan karper yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.
Ikan karper sebagai ikan konsumsi dibagi menjadi dua kelompok yakni ras ikan karper bersisik penuh dan ras ikan karper bersisik sedikit. Kelompok ras ikan karper yang bersisik penuh adalah ras-ras ikan karper yang memiliki sisik normal, tersusun teratur dan menyelimuti seluruh tubuh. Ras ikan karper yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah ikan karper majalaya, ikan karper punten, ikan karper si nyonya dan ikan karper merah atau mas. Sedangkan yang tergolong dalam ras karper bersisik sedikit adalah ikan karper kaca yang oleh petani di Tabanan biasa disebut dengan nama karper gajah. Untuk kelompok ras ikan karper hias, beberapa di antaranya adalah karper kumpay, kaca, mas merah dan koi.
Secara morfologis, ikan karper mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan karper ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan karper berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya.
Sejarah Perkembangannya di Indonesia
Menurut Djoko Suseno (2000), di Indonesia pertama kali ikan karper berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budi daya yang sangat penting.
Sementara itu, menurut R.O Ardiwinata, (1981) ikan karper yang berkembang di Indonesia diduga awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan karper diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat disebutkan sudah menggunakan kakaban - subtrat untuk pelekatan telur ikan karper yang terbuat dari ijuk – pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan karper di kolam di Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Sedangkan penyebaran ikan karper di daerah Jawa lainnya, dikemukakan terjadi pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian Pertanian” (Kemakmuran) saat itu.
Dari Jawa, ikan karper kemudian dikembangkan ke Bukittinggi (Sumatera Barat) tahun 1892. Berikutnya dikembangkan di Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) tahun 1895, daerah Bali Selatan (Tabanan) tahun 1903, Ende (Flores, NTT) tahun 1932 dan Sulawesi Selatan tahun 1935. Selain itu, pada tahun 1927 atas permintaan Jawatan Perikanan Darat saat itu juga mendatangkan jenis-jenis ikan karper dari Negeri Belanda, yakni jenis Galisia (karper gajah) dan kemudian tahun 1930 didatangkan lagi karper jenis Frankisia (karper kaca). Menurut Djoko Suseno (2000), kedua jenis karper tersebut sangat digemari oleh petani karena rasa dagingnya lebih sedap, padat, durinya sedikit dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ras-ras lokal yang sudah berkembang di Indonesia sebelumnya.
Pada tahun 1974, seperti yang dikemukakan Djoko Suseno (2000), Indonesia mengimpor ikan karper ras Taiwan, ras Jerman dan ras fancy carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang. Sekitar tahun 1977 Indonesia mengimpor ikan karper ras yamato dan ras koi dari Jepang. Ras-ras ikan karper yang diimpor tersebut dalam perkembangannya ternyata sulit dijaga kemurniannya karena berbaur dengan ras-ras ikan karper yang sudah ada di Indonesia sebelumnya sehingga terjadi persilangan dan membentuk ras-ras baru.
Sumber
Agus Rochdianto, 2005. Analisis Finansial Usaha Pembenihan Ikan Karper (Cyprinus carpio Linn) di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Skripsi S1 FE, Universitas Tabanan
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_karper"
1. SEJARAH SINGKAT
Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.
2. SENTRA PERIKANAN
Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah: Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta
3. JENIS
Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Anak kelas : Actinopterygii
Bangsa : Cypriniformes
Suku : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Jenis : Cyprinus carpio L.
Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan cirri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungankolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:
1) Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek;bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya gesit; perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.
2) Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap; punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjangbadan dengan tinggi badan antara 3,2:1.
3) Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit; gerakannya lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.
4) Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relative panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,5:1.
5) Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisikbermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp, long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.
Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurangberkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.
4. MANFAAT
1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2) Sebagai ikan hias.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150-1000 m dpl.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5) Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai airderas. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam airtenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras debitnya 100 liter/menit/m3.
6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
7) Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Kolam
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam
dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
a. Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya.
Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter
persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila
diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200
meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan
dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu
bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang
sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
b. Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok.
Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan
dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa
untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18
m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah
pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu
pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai
pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam
penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali
juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam
penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah
yang ada telurnya.
c. Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama
dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak.
Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan
dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran
dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir
adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk
memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah
pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air
sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
2) Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas
diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),
cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan
mas antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan
panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat
menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk
mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur
yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara
terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih),
sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk
menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
3) Persiapan Media
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk
pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,
diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing
dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk
buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram
dan 10 gram/meter persegi.
6.2. Pembibitan
1) Pemilihan Bibit dan Induk
Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu
secara tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin
meningkatnya teknologi budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan
maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk yang berkualitas baik.
Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi
alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya
pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan
teknik pembunuhan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian
kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan pemurnian
kualitas induk ikan. Untuk peningkatan produksi benih perlu dilakukan
penyeleksian terhadap induk ikan mas.
Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang
untuk dipijah adalah sebagai berikut:
a. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan:
umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
b. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor
mulus, sehat, sirip tidak cacat.
c. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih;
panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak
jernih.
d. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
e. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih
panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.
Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
Betina Jantan
Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning
Badan tampak langsing
Gerakan lincah dan gesit
Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
2) Sistim Pembenihan/Pemijahan
Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas, yaitu:
A. Sistim pemijahan tradisional
Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional, yaitu:
- Cara sunda:
(1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari;
(2) disediakan injuk untuk menepelkan
telur;
(3) setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke kolam
penetasan.
- Cara cimindi:
(1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan;
(2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit
bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari
tanah;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke
kolam lain;
(4) tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian
sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.
- Cara rancapaku:
(1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan, batas pematang antara terbuat dari batu;
(2) disediakan
rumput kering untuk menepelkan telur, rumput disebar merata di
seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam pemijahan.;
(4) setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela
bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.
- Cara sumatera:
(1) luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam
sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk
dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan;
(2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di
permukaan air;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan
ke kolam lain;
(4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam
pendederan.
- Cara dubish:
(1) luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit
keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi
air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan
merupakan kolam penetasan;
(2) sebagai media penempel telur
digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
(4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
- Cara hofer:
(1) sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan
tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.
B. Sistim kawin suntik
Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur
dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise
ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor
(berada dilekukan tulang tengkorak di bawah otak besar). Setelah
suntikan dilakukan dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
melakukan pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana
yang lengkap dan perawatan yang intensif.
3) Pembenihan/Pemijahan
Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:
a. Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.
b. Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan
suhu berkisar 25 derajat C.
c. Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.
d. Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan
seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.
e. Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet
diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran
2-4% dari jumlah berat induk ikan.
4) Pemeliharaan Bibit/Pendederan
Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur
hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan
(luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana
kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan
liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan
pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan.
Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:
a. Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah
benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1
bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.
b. Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang
disebar=50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 3-5 cm.
c. Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang
disebar=25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus
3-5% dari jumlah bobot benih.
d. Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang
disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih
menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5%
dari jumlah bobot benih.
5) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan
pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari
selama 3 minggu.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun
monokultur.
a) Polikultur
1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau
2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.
b) Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan
dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk
jantan dan betina.
1) Pemupukan
Pemupukan dengan kotoran kandang (ayam) sebanyak 250-500 gram/m2,
TSP 10 gram/m2, Urea 10 gram/m2, kapur 25-100 gram/m2. Setelah itu kolam
diisi air 39-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam
disemprot dengan insektisida organophosphat seperti Sumithion 60 EC,
Basudin 60 EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuannya untuk memberantas
serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera. Setelah 7 hari
kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran ikan tergantung
pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka
padat penebaran adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan bila diberi pakan
pellet, maka penebaran adalah 300-400 ekor/m2 (benih lepas hapa).
Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.
2) Pemberian Pakan
Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan
buatan. Pakan yang berkualitas baik mengandung zat-zat makanan yang
cukup, yaitu protein yang mengandung asam amino esensial, karbohidrat,
lemak, vitamin dan mineral. Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari.
Setelah larva tidak menempel pada kakaban (3-4 hari kemudian) kakaban
diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur
rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi (1/4 liter
air untuk 1 butir), kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada
benih, perawatan 5-7 hari.
3) Pemeliharaan Kolam/Tambak
Dalam hal pemeliharaan ikan mas yang tidak boleh terabaikan adalah
menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak
tercemari/teracuni oleh zat beracun.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
2) Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
3) Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
4) Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.
5) Lingsang, Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
6) Burung Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.
7) Ikan gabus
Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau dibuat bak filter.
7.2. Penyakit
1) Bintik merah (White spot)
Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih,
pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan
badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah
serta sering muncul di permukaan air. Pengendalian: direndam dalam
larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur
NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
2) Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)
Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung terjadi pendarahan. Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur
kapur tohon 200 gram/m2, biarkan selama 1-2 minggu.
3) Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)
Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok,
ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi
pendarahan dan menebal pada insang. Pengendalian: (1) direndan dalam
larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan direndam dalam
Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam; (2) hindari penebaran ikan yang
berlebihan.
4) Kutu ikan (argulosis)
Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian
kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage).
Pengendalian: (1) ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20
gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3)
selama 30 menit; (2) dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.
5) Jamur (Saprolegniasis)
Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya.
Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang
jamur, terlihat benang halus seperti kapas. Pengendalian: direndam dalam
larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur
yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.
6) Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan. Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan
badan pada sisi kolam/aquarium. Pengendalian: rendam selam 15 menit
dalam larutan formalin 150-200 ppm.
7) Bakteri psedomonas flurescens
Penyakit yang sangat ganas. Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip
ekor terkikis. Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur
oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
Bakteri aeromonas punctata
Penyakit yang sangat ganas. Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit
kesat dan melepuh; cara bernafas mengap-mengap; kantong empedu
gembung; pendarahan dalam organ hati dan ginjal. Pengendalian:
penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100
mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg ikan selama 7 hari
berturut-turut.
Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya
penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:
1) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu
pintu pemasukan air.
5) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
6) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
7) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.
8. PANEN
8.1. Pemanenan Benih
Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alatalat
tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana
yang disiapkan diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar, seser halus
sebagai alat tangkap benih, jaring atau hapa sebagai penyimpanan benih
sementara, saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar
benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih
untuk penyimpanan benih hasil panen.
Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00–05.00 pagi dan
sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari terik matahari yang dapat mengganggu benih ikan kesehatan
tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan menyurutkan air kolam
pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan
tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak. Setelah air surut
benih mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring dan ditampung dalam
ember atau keramba.
Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat
diperoleh dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.
8.2. Cara Perhitungan Benih
Untuk mengetahui benih ikan hasil panenan yang disimpan dalam bak penyimpanan maka sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara menghitung benih umumnya dengan memakai takaran, yaitu dengan menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung putihan, dan dihitung per ekor untuk benih ukuran glondongan. Penghitungan benih biasanya dengan cara:
a) Penghitungan dengan sendok.
b) Penghitungan dengan mangkok.
8.3. Pembersihan
Pada umumnya, dasar kolam pendederan sudah dirancang miring dan ada saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian yang lebih dalam dengan ukuran 1-2 meter persegi sehingga ketika air menyurut,maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam tersebut. Benihikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang ketinggalan dalam kolam.Benih ikan tersebut semuanya disimpan dalam bak-bak penampungan yangtelah disiapkan.
8.4. Pemanenan Hasil Pembesaran
Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan panentotal. Umur ikan mas yang dipanen berkisar antara 3-4 bulan dengan berat berkisar antara 400-600 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenansecepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.
1) Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2) Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah sebagai berikut:
a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
b. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan
dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1
m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan
dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan
ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan
dengan ukuran benihnya.
d. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
- Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
- Sistem tertutup, Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(hpo)4.H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik:
(1) masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;
(2) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air;
(3) alirkan oksigen dari tabung
dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2);
(4) kantong plastik lalu diikat.
(5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan adalah sebagai berikut:
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
dalam 10 liter air bersih).
- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2 menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih
ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.Analisis Usaha Budidaya
Analisis budidaya ikan mas koki dengan luas lahan 70 m2 (kapasitas 1000 ekor)
selama 7 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat.
1) Biaya produksi
a. Sewa dan pembuatan kolam Rp. 1.500.000,-
b. Benih ikan 1.000 ekor, @ Rp.100,- Rp. 100.000,-
c. Pakan
- Cacing rambut 150 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 225.000,-
- Pelet udang 10 kg @ Rp. 9.500,- Rp. 95.000,-
- Tepung jagung 50 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 75.000,-
- Ganti air 7 bulan x 4 x2 @ Rp. 5.000,- Rp. 140.000,-
- Tenaga kerja 28 minggu @ Rp.10.000,- Rp. 280.000,-
- Obat-oabatan Rp. 10.000,-
d. Peralatan Rp. 50.000,-
e. Lain-lain Rp. 150.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 2.625.000,-
2) Pendapatan
a. Panen I (2 bulan) 400 ekor @ Rp.1.000,- Rp. 400.000,-
b. Panen II (4 bulan) 250 ekor @ Rp. 3.000,- Rp. 750.000,-
c. Panen III ( 2 bulan) 250 ekor @ Rp. 10.000,- Rp. 2.500.000,-
Jumlah pendapatan Rp. 3.650.000,-
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
3) Keuntungan dalam 7 bulan Rp. 1.025.000,-
a. Keuntungan per bulan Rp. 146.425,-
4) Parameter kelayakan usaha
B/C ratio 1,39
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen, penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import. Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawar lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan mas mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sector perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.
11. DAFTAR PUSTAKA
1) DAMANA, Rahman. 1990. Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif dalam Sinar Tani. 2 ,Juni 1990 hal. 2
2) GUNAWAN. Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas dalam Sinar Tani. 27Agustus 1988 hal. 5
3) RUKMANA, Rahmat. 1991. Budidaya Ikan Mas, Untungnya Bagai MenabungEmas dalam Sinar Tani. 13 Februari 1991 hal. 5
4) RUKMANA, Rahmat. 1992. Prospek Usaha Ikan Mas Menggiurkan DanMenguntungkan dalam Suara Karya. 18 Februari 1992 hal. 7 Kanisius.
6) SUMANTADINATA, Komar. 1981. Pengembangbiakan ikan-ikan peliharaandi Indonesia. Jakarta : Sastra Hudaya.
7) SUSENO, Djoko. 1999. Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, cet. :7. Jakarta : Penebar Swadaya.
Common carp
Status konservasi: Aman
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Cypriniformes
Familia: Cyprinidae
Genus: Cyprinus
Spesies: carpio
Nama binomial
Cyprinus carpio
Linnaeus
Sistematika dan Morfologi
Di Indonesia, ikan karper memiliki beberapa nama sebutan yakni ikan mas, kancera, tikeu, tombro, raja, rayo, ameh atau nama lain sesuai dengan daerah penyebarannya.
Ahli perikanan Dr. A.L Buschkiel dalam RO. Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan karper menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis karper yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sisrip memanjang. Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan karper yang bersisik biasa dan kedua, bersisik kecil.
Sedangkan Djoko Suseno (2000) mengemukakan, berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan karper yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.
Ikan karper sebagai ikan konsumsi dibagi menjadi dua kelompok yakni ras ikan karper bersisik penuh dan ras ikan karper bersisik sedikit. Kelompok ras ikan karper yang bersisik penuh adalah ras-ras ikan karper yang memiliki sisik normal, tersusun teratur dan menyelimuti seluruh tubuh. Ras ikan karper yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah ikan karper majalaya, ikan karper punten, ikan karper si nyonya dan ikan karper merah atau mas. Sedangkan yang tergolong dalam ras karper bersisik sedikit adalah ikan karper kaca yang oleh petani di Tabanan biasa disebut dengan nama karper gajah. Untuk kelompok ras ikan karper hias, beberapa di antaranya adalah karper kumpay, kaca, mas merah dan koi.
Secara morfologis, ikan karper mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan karper ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan karper berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya.
Sejarah Perkembangannya di Indonesia
Menurut Djoko Suseno (2000), di Indonesia pertama kali ikan karper berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budi daya yang sangat penting.
Sementara itu, menurut R.O Ardiwinata, (1981) ikan karper yang berkembang di Indonesia diduga awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan karper diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat disebutkan sudah menggunakan kakaban - subtrat untuk pelekatan telur ikan karper yang terbuat dari ijuk – pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan karper di kolam di Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Sedangkan penyebaran ikan karper di daerah Jawa lainnya, dikemukakan terjadi pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian Pertanian” (Kemakmuran) saat itu.
Dari Jawa, ikan karper kemudian dikembangkan ke Bukittinggi (Sumatera Barat) tahun 1892. Berikutnya dikembangkan di Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) tahun 1895, daerah Bali Selatan (Tabanan) tahun 1903, Ende (Flores, NTT) tahun 1932 dan Sulawesi Selatan tahun 1935. Selain itu, pada tahun 1927 atas permintaan Jawatan Perikanan Darat saat itu juga mendatangkan jenis-jenis ikan karper dari Negeri Belanda, yakni jenis Galisia (karper gajah) dan kemudian tahun 1930 didatangkan lagi karper jenis Frankisia (karper kaca). Menurut Djoko Suseno (2000), kedua jenis karper tersebut sangat digemari oleh petani karena rasa dagingnya lebih sedap, padat, durinya sedikit dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ras-ras lokal yang sudah berkembang di Indonesia sebelumnya.
Pada tahun 1974, seperti yang dikemukakan Djoko Suseno (2000), Indonesia mengimpor ikan karper ras Taiwan, ras Jerman dan ras fancy carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang. Sekitar tahun 1977 Indonesia mengimpor ikan karper ras yamato dan ras koi dari Jepang. Ras-ras ikan karper yang diimpor tersebut dalam perkembangannya ternyata sulit dijaga kemurniannya karena berbaur dengan ras-ras ikan karper yang sudah ada di Indonesia sebelumnya sehingga terjadi persilangan dan membentuk ras-ras baru.
Sumber
Agus Rochdianto, 2005. Analisis Finansial Usaha Pembenihan Ikan Karper (Cyprinus carpio Linn) di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Skripsi S1 FE, Universitas Tabanan
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_karper"
1. SEJARAH SINGKAT
Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.
2. SENTRA PERIKANAN
Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah: Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta
3. JENIS
Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Anak kelas : Actinopterygii
Bangsa : Cypriniformes
Suku : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Jenis : Cyprinus carpio L.
Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan cirri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungankolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:
1) Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek;bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya gesit; perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.
2) Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap; punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjangbadan dengan tinggi badan antara 3,2:1.
3) Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit; gerakannya lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.
4) Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relative panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,5:1.
5) Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisikbermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp, long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.
Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurangberkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.
4. MANFAAT
1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2) Sebagai ikan hias.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150-1000 m dpl.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5) Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai airderas. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam airtenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras debitnya 100 liter/menit/m3.
6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
7) Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Kolam
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam
dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
a. Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya.
Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter
persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila
diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200
meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan
dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu
bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang
sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
b. Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok.
Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan
dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa
untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18
m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah
pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu
pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai
pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam
penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali
juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam
penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah
yang ada telurnya.
c. Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama
dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak.
Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan
dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran
dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir
adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk
memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah
pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air
sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
2) Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas
diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),
cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan
mas antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan
panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat
menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk
mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur
yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara
terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih),
sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk
menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
3) Persiapan Media
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk
pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,
diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing
dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk
buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram
dan 10 gram/meter persegi.
6.2. Pembibitan
1) Pemilihan Bibit dan Induk
Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu
secara tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin
meningkatnya teknologi budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan
maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk yang berkualitas baik.
Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi
alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya
pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan
teknik pembunuhan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian
kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan pemurnian
kualitas induk ikan. Untuk peningkatan produksi benih perlu dilakukan
penyeleksian terhadap induk ikan mas.
Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang
untuk dipijah adalah sebagai berikut:
a. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan:
umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
b. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor
mulus, sehat, sirip tidak cacat.
c. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih;
panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak
jernih.
d. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
e. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih
panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.
Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
Betina Jantan
Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning
Badan tampak langsing
Gerakan lincah dan gesit
Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
2) Sistim Pembenihan/Pemijahan
Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas, yaitu:
A. Sistim pemijahan tradisional
Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional, yaitu:
- Cara sunda:
(1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari;
(2) disediakan injuk untuk menepelkan
telur;
(3) setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke kolam
penetasan.
- Cara cimindi:
(1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan;
(2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit
bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari
tanah;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke
kolam lain;
(4) tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian
sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.
- Cara rancapaku:
(1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan, batas pematang antara terbuat dari batu;
(2) disediakan
rumput kering untuk menepelkan telur, rumput disebar merata di
seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam pemijahan.;
(4) setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela
bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.
- Cara sumatera:
(1) luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam
sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk
dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan;
(2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di
permukaan air;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan
ke kolam lain;
(4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam
pendederan.
- Cara dubish:
(1) luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit
keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi
air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan
merupakan kolam penetasan;
(2) sebagai media penempel telur
digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
(4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
- Cara hofer:
(1) sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan
tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.
B. Sistim kawin suntik
Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur
dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise
ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor
(berada dilekukan tulang tengkorak di bawah otak besar). Setelah
suntikan dilakukan dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
melakukan pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana
yang lengkap dan perawatan yang intensif.
3) Pembenihan/Pemijahan
Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:
a. Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.
b. Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan
suhu berkisar 25 derajat C.
c. Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.
d. Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan
seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.
e. Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet
diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran
2-4% dari jumlah berat induk ikan.
4) Pemeliharaan Bibit/Pendederan
Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur
hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan
(luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana
kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan
liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan
pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan.
Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:
a. Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah
benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1
bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.
b. Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang
disebar=50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 3-5 cm.
c. Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang
disebar=25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus
3-5% dari jumlah bobot benih.
d. Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang
disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih
menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5%
dari jumlah bobot benih.
5) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan
pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari
selama 3 minggu.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun
monokultur.
a) Polikultur
1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau
2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.
b) Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan
dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk
jantan dan betina.
1) Pemupukan
Pemupukan dengan kotoran kandang (ayam) sebanyak 250-500 gram/m2,
TSP 10 gram/m2, Urea 10 gram/m2, kapur 25-100 gram/m2. Setelah itu kolam
diisi air 39-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam
disemprot dengan insektisida organophosphat seperti Sumithion 60 EC,
Basudin 60 EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuannya untuk memberantas
serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera. Setelah 7 hari
kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran ikan tergantung
pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka
padat penebaran adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan bila diberi pakan
pellet, maka penebaran adalah 300-400 ekor/m2 (benih lepas hapa).
Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.
2) Pemberian Pakan
Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan
buatan. Pakan yang berkualitas baik mengandung zat-zat makanan yang
cukup, yaitu protein yang mengandung asam amino esensial, karbohidrat,
lemak, vitamin dan mineral. Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari.
Setelah larva tidak menempel pada kakaban (3-4 hari kemudian) kakaban
diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur
rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi (1/4 liter
air untuk 1 butir), kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada
benih, perawatan 5-7 hari.
3) Pemeliharaan Kolam/Tambak
Dalam hal pemeliharaan ikan mas yang tidak boleh terabaikan adalah
menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak
tercemari/teracuni oleh zat beracun.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
2) Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
3) Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
4) Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.
5) Lingsang, Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
6) Burung Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.
7) Ikan gabus
Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau dibuat bak filter.
7.2. Penyakit
1) Bintik merah (White spot)
Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih,
pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan
badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah
serta sering muncul di permukaan air. Pengendalian: direndam dalam
larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur
NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
2) Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)
Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung terjadi pendarahan. Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur
kapur tohon 200 gram/m2, biarkan selama 1-2 minggu.
3) Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)
Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok,
ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi
pendarahan dan menebal pada insang. Pengendalian: (1) direndan dalam
larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan direndam dalam
Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam; (2) hindari penebaran ikan yang
berlebihan.
4) Kutu ikan (argulosis)
Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian
kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage).
Pengendalian: (1) ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20
gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3)
selama 30 menit; (2) dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.
5) Jamur (Saprolegniasis)
Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya.
Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang
jamur, terlihat benang halus seperti kapas. Pengendalian: direndam dalam
larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur
yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.
6) Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan. Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan
badan pada sisi kolam/aquarium. Pengendalian: rendam selam 15 menit
dalam larutan formalin 150-200 ppm.
7) Bakteri psedomonas flurescens
Penyakit yang sangat ganas. Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip
ekor terkikis. Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur
oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
Bakteri aeromonas punctata
Penyakit yang sangat ganas. Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit
kesat dan melepuh; cara bernafas mengap-mengap; kantong empedu
gembung; pendarahan dalam organ hati dan ginjal. Pengendalian:
penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100
mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg ikan selama 7 hari
berturut-turut.
Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya
penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:
1) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu
pintu pemasukan air.
5) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
6) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
7) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.
8. PANEN
8.1. Pemanenan Benih
Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alatalat
tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana
yang disiapkan diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar, seser halus
sebagai alat tangkap benih, jaring atau hapa sebagai penyimpanan benih
sementara, saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar
benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih
untuk penyimpanan benih hasil panen.
Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00–05.00 pagi dan
sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari terik matahari yang dapat mengganggu benih ikan kesehatan
tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan menyurutkan air kolam
pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan
tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak. Setelah air surut
benih mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring dan ditampung dalam
ember atau keramba.
Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat
diperoleh dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.
8.2. Cara Perhitungan Benih
Untuk mengetahui benih ikan hasil panenan yang disimpan dalam bak penyimpanan maka sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara menghitung benih umumnya dengan memakai takaran, yaitu dengan menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung putihan, dan dihitung per ekor untuk benih ukuran glondongan. Penghitungan benih biasanya dengan cara:
a) Penghitungan dengan sendok.
b) Penghitungan dengan mangkok.
8.3. Pembersihan
Pada umumnya, dasar kolam pendederan sudah dirancang miring dan ada saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian yang lebih dalam dengan ukuran 1-2 meter persegi sehingga ketika air menyurut,maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam tersebut. Benihikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang ketinggalan dalam kolam.Benih ikan tersebut semuanya disimpan dalam bak-bak penampungan yangtelah disiapkan.
8.4. Pemanenan Hasil Pembesaran
Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan panentotal. Umur ikan mas yang dipanen berkisar antara 3-4 bulan dengan berat berkisar antara 400-600 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenansecepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.
1) Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2) Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah sebagai berikut:
a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
b. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan
dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1
m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan
dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan
ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan
dengan ukuran benihnya.
d. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
- Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
- Sistem tertutup, Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(hpo)4.H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik:
(1) masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;
(2) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air;
(3) alirkan oksigen dari tabung
dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2);
(4) kantong plastik lalu diikat.
(5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan adalah sebagai berikut:
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
dalam 10 liter air bersih).
- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2 menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih
ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.Analisis Usaha Budidaya
Analisis budidaya ikan mas koki dengan luas lahan 70 m2 (kapasitas 1000 ekor)
selama 7 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat.
1) Biaya produksi
a. Sewa dan pembuatan kolam Rp. 1.500.000,-
b. Benih ikan 1.000 ekor, @ Rp.100,- Rp. 100.000,-
c. Pakan
- Cacing rambut 150 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 225.000,-
- Pelet udang 10 kg @ Rp. 9.500,- Rp. 95.000,-
- Tepung jagung 50 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 75.000,-
- Ganti air 7 bulan x 4 x2 @ Rp. 5.000,- Rp. 140.000,-
- Tenaga kerja 28 minggu @ Rp.10.000,- Rp. 280.000,-
- Obat-oabatan Rp. 10.000,-
d. Peralatan Rp. 50.000,-
e. Lain-lain Rp. 150.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 2.625.000,-
2) Pendapatan
a. Panen I (2 bulan) 400 ekor @ Rp.1.000,- Rp. 400.000,-
b. Panen II (4 bulan) 250 ekor @ Rp. 3.000,- Rp. 750.000,-
c. Panen III ( 2 bulan) 250 ekor @ Rp. 10.000,- Rp. 2.500.000,-
Jumlah pendapatan Rp. 3.650.000,-
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
3) Keuntungan dalam 7 bulan Rp. 1.025.000,-
a. Keuntungan per bulan Rp. 146.425,-
4) Parameter kelayakan usaha
B/C ratio 1,39
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen, penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import. Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawar lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan mas mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sector perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.
11. DAFTAR PUSTAKA
1) DAMANA, Rahman. 1990. Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif dalam Sinar Tani. 2 ,Juni 1990 hal. 2
2) GUNAWAN. Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas dalam Sinar Tani. 27Agustus 1988 hal. 5
3) RUKMANA, Rahmat. 1991. Budidaya Ikan Mas, Untungnya Bagai MenabungEmas dalam Sinar Tani. 13 Februari 1991 hal. 5
4) RUKMANA, Rahmat. 1992. Prospek Usaha Ikan Mas Menggiurkan DanMenguntungkan dalam Suara Karya. 18 Februari 1992 hal. 7 Kanisius.
6) SUMANTADINATA, Komar. 1981. Pengembangbiakan ikan-ikan peliharaandi Indonesia. Jakarta : Sastra Hudaya.
7) SUSENO, Djoko. 1999. Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, cet. :7. Jakarta : Penebar Swadaya.
Kamis, 22 Juli 2010
LAPORAN PAKAN ALAMI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Larar belakang
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
Selama ini produksi pakan ikan alami dilakukan oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan, atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa.
1.2 Tujuan
Agar mahasiswa tau mengitun populasi pakan alami
Untuk meninkatkan keterampilan mahasiswa dalam melakukan perhitungan populasi pakan alami
Dalam praktek di harapkan mahasiswa pada saatr praktek tidak bermain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong.
Fitoplanton adalah jasad nabatiyaang dapat melakukan fotosintesis. Ukurannya relatif lebih kecil dari zooplankton. Terdiri dari satu sel atau beberapa sel. Bentuknya berfariasi, yaitu bulat oval hingga seperti benang sedankan zooplankton dan bentos adalah jasat hewani , terdii atas banyak sel, bentuknya berfariasi yaitu separti piala, oval hingga bersekmen sekmen.
BAB III
METODOLOGI
2.1 Waktu dan tempat
Adapun wakyu pelaksanaan kegiatan praktek tentan perhitungab populasi phitoplanton tanggal satu oktober 2007
Bertempat di lep depertemen perikanan.
2.2 kebutuhan alat dan bahan
Alat
• Mikroskop
• Pralatan glass ( pipet, demeyer, piper glass dan tabung reaksi )
• Heamocytomete
• Cover
Bahan
• Air kolam
2.3 langkah kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 hasil
Dari prakik yang kami lakukan kami menemukan beribu – ribu jenis planton di dalam suatu perairan. Phyotoplanton berkemban biak dengan cara seksual dan aseksual.
Jiak kita melakukan kultur pakan alami kita harus bias melakukan perhitungan banyaknya planton yang kita budidayakan di dalam wadah budidaya rumus yang kita gunakan adalah hasil perhitungan rata – rata x 400 x 104 maka hasil perkalian rumus trsebut itulah banyaknya phytoplankton yang ada dalam wadah budadaya.
Dalam melakukan perhitungan populasi phytoplankton terlebih dahulu kita mengambil sample sebelum di teliti di dalam mikroskop kita haru s menggunakan alat yaitu : heacytometer.
Gambarnya sebagai berikut :
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu :
6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel /
4.2 Pembahasan
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
Adapun wakyu pelaksanaan kegiatan praktek tentan perhitungab populasi phitoplanton tanggal satu oktober 2007
Bertempat di lep depertemen perikanan.
kebutuhan alat dan bahan
• Mikroskop
• Pralatan glass ( pipet, demeyer, piper glass dan tabung reaksi )
• Heamocytomete
• Cover
• Air kolam
Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong.
Dalam melakukan perhitungan populasi phytoplankton terlebih dahulu kita mengambil sample sebelum di teliti di dalam mikroskop kita haru s menggunakan alat yaitu : heacytometer.
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu :
6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel /
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Jika kita melakukan kultur masal pakan alami maka kita harus bias melakukan perhitungan populasai pakan alami yang kita kultur.
Tidak semua pakan alami yang dapat kita budidayakan contohnya yang biasa di budidayakan : a) Chlorella, b) Tetraselmis, (c) Dunaliella, (d) Diatomae,
# (e) Spirulina, (f) Brachionus; (g) Artemia, (h) Infusoria; (i) Kutu Air, j) Jentik- jentik
Nyamuk, (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut dan, (l) Ulat Hongkong.
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut Dalam perhitungan kami mengambil tiga anggka yang sering keluar yaitu :
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu : 6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel / .
5.2 saran
Dalam melakukan praktek hendaknya perhatikan keselamatan kerja
Melakukan praktek jagalah alat - alat agar tidak ada yang rusak atau pecah
Dan jika praktek jangan bermain – main.
DAFTAR PUSTAKA
Ir. ABBAS SIREGAR DJRIJAH. 2006. pakan ikan alami. Kanisius, yogjakarta.
Ir. Yusuf Baktiar. 2006. Panduan lengkap Budidaya lele dumbo .agromedia pustaka. Jakarta.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sejalan dengan pesatnya usaha di bidang perikanan, di rasakan sangat besar peranan pakan alami bagi usaha budidaya ikan, khususnya bagi uasa pembenihsn ikan. Tetapi masalahnya adalah para petani belum banyak mengenal martinya pakan alami bagi usaha pembenihan ikan secara kuantitas [akan alami tidak bias dig anti dengan pakan buatang . karena pada fase larva merupakan fase yang paling kritis dalam kematian benih. Dengan pakan alamin ikan menemukan jenis pakan yang sangat cocok bagi larfa ikan.
Ketersediaan pakn yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik sangat di perlukan, agar angka kematian dan tinggkat daya serang penyakit dapat di tekankan serendah mungkin. Pakan alami dengan berbagai kelebihan sangat cocok bagi benih ikan sebagaian besar pakan alami dangan berbagai kelebihan sangat cocok bagi benih ikan. Sebagain besar pakan alami adalah plankton baik dari zooplankton maupun phytoplankton pakan ini hidup bebas di berbagai perairan, dan mampu berkambang baik secara cepat,.
Berbagai pakan alami yang dapat di produksi secara masal ialah Dapnia sp, artemia sp, rotifera, cholorella, dan cacing tubifex. Jika kita budidaya pakan alami harus sesuai dengan habitatnya jika tidak sesuai maka pakan alami tersebut tidak akan hidup / mati.budidaya pakan alami tidak terlalu memakan tempat yang luas,
keunggulan pakan alami ialah :
1. Pakan ikan alami relative kecil sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih ikan.
2. Nilai gizinya tinggi
3. Mudah di budidaya secara masal
4. tidak mengandun racun dan tidak mencemari lingkungan hidup larva
5. Dalam membudidayakan tidak memerlukan banyak biaya
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini praktek budidaya pakan ikan alami adalah
1. Untuk mengetahui prosedur dan identifikasi ( Phytoplankton dan zooplankton ) sehingga dapat mengetahui cirri-ciri dari masing-masing.
2. Mengetahui teknik perhitungan phyplankton
3. Mengetahui perkembangan polankton
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Phyplankton
Phytoplankton adalah organisme air yang melayang – laying mengikuti pergerakan air jenis phyplankton yang mendominasi penkulkturan yaitu ;
2.2 Clorella sp
Klasifikasi Clorella sp
Klasifikasi clorella sp menurut doctor soetatwo hediwigena adalah sebagai berikaut
Divisi : Clorophyta
Kelas : Clorophycea
Bangsa : Clorococcales
Suku : chorellaceae
Marga : Clorella
Jenis : clorella sp
Morfolopgi Clorella sp
Clorella sp berbantuk bulat atau bulat telur, berukuran 3-5 mokron. Memiliki kloroplas seperti cawan, dindingnya keras, padat, dan garis tegahnya 5 mikron. Serta tidak bergerak aktif dan setiap selnya terdapat inti dan cloroplas.
Ekologi clorella sp
Clorella sp dapat hidup dimana –mana, di media air tawar, air payau, air laut. Kecuali di gurun pasir dan salju, sebagain besar banyak hidup di perairan air tawar. Clorella sp dapat tunbuh debngan baik pada berbagain yang banyak mengandun unsure hara, seperti N, P, K dan unsure mikro lainnya. Clorella dapat tubuh baik dangan suhu optimal 240 C.
Daur hudup clorella sp
Clorella sp berkembang biak secara vegetative ( aseksual ) dan generatif ( seksual ), secara aseksual yaitu dengan cara membelah sel. Clorella sp akan terus berkamban biak biak jika kondisi lingkungan memunkinkan. Sedangkan perkembvangan secara vegetative belumbanyak di ketahui.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan kultur budidaya pakan ikan alami yang meliputi kultur phytoplankton di lakukan dari tanggal 15 0ktober 2007 sampai 28 oktober 2007. tempat pelaksanaan kultur budidaya pakan alami di laksanakan di depertemen perikanan VEDCA Cianjur jawa barat.
3.2 Alat dan bahan
Alat dan bahan yang di gunakan dalam kultur pakan alami ini adalah sebagai berikut
3.2.1 Budidaya Phytoplankton air tawar
Alat :
Mikroskop
Heocitometer
Kaca preparat
Cawan Petri
Tissu Bahan :
Air
Pupuk komersial ( urea, tsp, kcl )
Clorella sp
3.3 Prosedur kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum budidaya pakan alami ini di laksanakan mulai tanggal 15 Oktober sampai 28 oktober 2007.
4.1 Budidaya phytoplankton
Adapun data pertumbuhan dari phytoplankton jenis clorella sp adalah sebagai berikut :
Hasil perhitungan kepadatan phytoplankton
No Tanggal pengamatan Hasil pengamatan
1 18 / 10 / 2007 46 . 104 sel / ml
2 22 / 10 / 2007 64 . 104 sel / ml
3 23 / 10 / 2007 74 . 104 sel / ml
4 24 / 10 / 2007 86 . 104 sel / ml
5 25 / 10 2007 92 . 104 sel / ml
6 26 / 10 / 2007 92 . 104 sel / ml
7 27 / 10 / 2007 79 . 104 sel / ml
8 28 / 10 / 2007 77 . 104 sel / ml
Dalam pertumbuhan clorella sp mengalami 3 fase pertumbuhan yaitu pertumbuhan awal, pertumbuhan puncak fese kematian pertumbuhan phytoplankton di tandai dengan berubahnya warna air yang semulanya jernih, puncak kepadatan plankton pada tanggal 24 – 26 oktober 2007 dengan kepadatan total 920000 sel / ml.ini disebabkan olah bahang – bahan organic yang mendukung pertumbuhan phytoplankton sudah mulai habis
Dalam praktek yang kami lakukan kami membutuhkan pupuk
( Urea, Tsp,Kcl ). Wadah yang kami gunakan yaitu viber dengan volume air yaitu 88,4 liter sehingga kebutuhan pupuk yaitu
Urea = 800 mg x 88,4 L
= 70,720 mg
= 70,8 gr
Tsp = 15 mg x 88,4 L
= 1326 mg
= 1,3 gr
Kcl = 40 mg x 88,4 L
= 3536 mg
= 3,5 gr
Adapun grafik pertumbuhan clorella sp sbb :
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dalam kegiatan budidaya pakan alami, kita harus tau bahan apa saja yang di gunakan
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam budidaya maka harus memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi kegiatan budidaya.
Saran
Saran
Sarana prasarana harus lengkap sehingga praktikum berjalan lancer
Alat yang suda rusak sebaiknya di ganti sehingga dapat di perolah hasil yang efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Djarija Abbas siregar. 1995. pakan ikan alami. Jokjakarata ; Kanisius
Hefni effendi 2007. Telaah kualitas air; kanisius 2003
PENDAHULUAN
1.1 Larar belakang
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
Selama ini produksi pakan ikan alami dilakukan oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan, atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa.
1.2 Tujuan
Agar mahasiswa tau mengitun populasi pakan alami
Untuk meninkatkan keterampilan mahasiswa dalam melakukan perhitungan populasi pakan alami
Dalam praktek di harapkan mahasiswa pada saatr praktek tidak bermain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong.
Fitoplanton adalah jasad nabatiyaang dapat melakukan fotosintesis. Ukurannya relatif lebih kecil dari zooplankton. Terdiri dari satu sel atau beberapa sel. Bentuknya berfariasi, yaitu bulat oval hingga seperti benang sedankan zooplankton dan bentos adalah jasat hewani , terdii atas banyak sel, bentuknya berfariasi yaitu separti piala, oval hingga bersekmen sekmen.
BAB III
METODOLOGI
2.1 Waktu dan tempat
Adapun wakyu pelaksanaan kegiatan praktek tentan perhitungab populasi phitoplanton tanggal satu oktober 2007
Bertempat di lep depertemen perikanan.
2.2 kebutuhan alat dan bahan
Alat
• Mikroskop
• Pralatan glass ( pipet, demeyer, piper glass dan tabung reaksi )
• Heamocytomete
• Cover
Bahan
• Air kolam
2.3 langkah kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 hasil
Dari prakik yang kami lakukan kami menemukan beribu – ribu jenis planton di dalam suatu perairan. Phyotoplanton berkemban biak dengan cara seksual dan aseksual.
Jiak kita melakukan kultur pakan alami kita harus bias melakukan perhitungan banyaknya planton yang kita budidayakan di dalam wadah budidaya rumus yang kita gunakan adalah hasil perhitungan rata – rata x 400 x 104 maka hasil perkalian rumus trsebut itulah banyaknya phytoplankton yang ada dalam wadah budadaya.
Dalam melakukan perhitungan populasi phytoplankton terlebih dahulu kita mengambil sample sebelum di teliti di dalam mikroskop kita haru s menggunakan alat yaitu : heacytometer.
Gambarnya sebagai berikut :
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu :
6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel /
4.2 Pembahasan
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
Adapun wakyu pelaksanaan kegiatan praktek tentan perhitungab populasi phitoplanton tanggal satu oktober 2007
Bertempat di lep depertemen perikanan.
kebutuhan alat dan bahan
• Mikroskop
• Pralatan glass ( pipet, demeyer, piper glass dan tabung reaksi )
• Heamocytomete
• Cover
• Air kolam
Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong.
Dalam melakukan perhitungan populasi phytoplankton terlebih dahulu kita mengambil sample sebelum di teliti di dalam mikroskop kita haru s menggunakan alat yaitu : heacytometer.
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu :
6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel /
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Jika kita melakukan kultur masal pakan alami maka kita harus bias melakukan perhitungan populasai pakan alami yang kita kultur.
Tidak semua pakan alami yang dapat kita budidayakan contohnya yang biasa di budidayakan : a) Chlorella, b) Tetraselmis, (c) Dunaliella, (d) Diatomae,
# (e) Spirulina, (f) Brachionus; (g) Artemia, (h) Infusoria; (i) Kutu Air, j) Jentik- jentik
Nyamuk, (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut dan, (l) Ulat Hongkong.
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut Dalam perhitungan kami mengambil tiga anggka yang sering keluar yaitu :
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu : 6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel / .
5.2 saran
Dalam melakukan praktek hendaknya perhatikan keselamatan kerja
Melakukan praktek jagalah alat - alat agar tidak ada yang rusak atau pecah
Dan jika praktek jangan bermain – main.
DAFTAR PUSTAKA
Ir. ABBAS SIREGAR DJRIJAH. 2006. pakan ikan alami. Kanisius, yogjakarta.
Ir. Yusuf Baktiar. 2006. Panduan lengkap Budidaya lele dumbo .agromedia pustaka. Jakarta.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sejalan dengan pesatnya usaha di bidang perikanan, di rasakan sangat besar peranan pakan alami bagi usaha budidaya ikan, khususnya bagi uasa pembenihsn ikan. Tetapi masalahnya adalah para petani belum banyak mengenal martinya pakan alami bagi usaha pembenihan ikan secara kuantitas [akan alami tidak bias dig anti dengan pakan buatang . karena pada fase larva merupakan fase yang paling kritis dalam kematian benih. Dengan pakan alamin ikan menemukan jenis pakan yang sangat cocok bagi larfa ikan.
Ketersediaan pakn yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik sangat di perlukan, agar angka kematian dan tinggkat daya serang penyakit dapat di tekankan serendah mungkin. Pakan alami dengan berbagai kelebihan sangat cocok bagi benih ikan sebagaian besar pakan alami dangan berbagai kelebihan sangat cocok bagi benih ikan. Sebagain besar pakan alami adalah plankton baik dari zooplankton maupun phytoplankton pakan ini hidup bebas di berbagai perairan, dan mampu berkambang baik secara cepat,.
Berbagai pakan alami yang dapat di produksi secara masal ialah Dapnia sp, artemia sp, rotifera, cholorella, dan cacing tubifex. Jika kita budidaya pakan alami harus sesuai dengan habitatnya jika tidak sesuai maka pakan alami tersebut tidak akan hidup / mati.budidaya pakan alami tidak terlalu memakan tempat yang luas,
keunggulan pakan alami ialah :
1. Pakan ikan alami relative kecil sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih ikan.
2. Nilai gizinya tinggi
3. Mudah di budidaya secara masal
4. tidak mengandun racun dan tidak mencemari lingkungan hidup larva
5. Dalam membudidayakan tidak memerlukan banyak biaya
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini praktek budidaya pakan ikan alami adalah
1. Untuk mengetahui prosedur dan identifikasi ( Phytoplankton dan zooplankton ) sehingga dapat mengetahui cirri-ciri dari masing-masing.
2. Mengetahui teknik perhitungan phyplankton
3. Mengetahui perkembangan polankton
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Phyplankton
Phytoplankton adalah organisme air yang melayang – laying mengikuti pergerakan air jenis phyplankton yang mendominasi penkulkturan yaitu ;
2.2 Clorella sp
Klasifikasi Clorella sp
Klasifikasi clorella sp menurut doctor soetatwo hediwigena adalah sebagai berikaut
Divisi : Clorophyta
Kelas : Clorophycea
Bangsa : Clorococcales
Suku : chorellaceae
Marga : Clorella
Jenis : clorella sp
Morfolopgi Clorella sp
Clorella sp berbantuk bulat atau bulat telur, berukuran 3-5 mokron. Memiliki kloroplas seperti cawan, dindingnya keras, padat, dan garis tegahnya 5 mikron. Serta tidak bergerak aktif dan setiap selnya terdapat inti dan cloroplas.
Ekologi clorella sp
Clorella sp dapat hidup dimana –mana, di media air tawar, air payau, air laut. Kecuali di gurun pasir dan salju, sebagain besar banyak hidup di perairan air tawar. Clorella sp dapat tunbuh debngan baik pada berbagain yang banyak mengandun unsure hara, seperti N, P, K dan unsure mikro lainnya. Clorella dapat tubuh baik dangan suhu optimal 240 C.
Daur hudup clorella sp
Clorella sp berkembang biak secara vegetative ( aseksual ) dan generatif ( seksual ), secara aseksual yaitu dengan cara membelah sel. Clorella sp akan terus berkamban biak biak jika kondisi lingkungan memunkinkan. Sedangkan perkembvangan secara vegetative belumbanyak di ketahui.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan kultur budidaya pakan ikan alami yang meliputi kultur phytoplankton di lakukan dari tanggal 15 0ktober 2007 sampai 28 oktober 2007. tempat pelaksanaan kultur budidaya pakan alami di laksanakan di depertemen perikanan VEDCA Cianjur jawa barat.
3.2 Alat dan bahan
Alat dan bahan yang di gunakan dalam kultur pakan alami ini adalah sebagai berikut
3.2.1 Budidaya Phytoplankton air tawar
Alat :
Mikroskop
Heocitometer
Kaca preparat
Cawan Petri
Tissu Bahan :
Air
Pupuk komersial ( urea, tsp, kcl )
Clorella sp
3.3 Prosedur kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum budidaya pakan alami ini di laksanakan mulai tanggal 15 Oktober sampai 28 oktober 2007.
4.1 Budidaya phytoplankton
Adapun data pertumbuhan dari phytoplankton jenis clorella sp adalah sebagai berikut :
Hasil perhitungan kepadatan phytoplankton
No Tanggal pengamatan Hasil pengamatan
1 18 / 10 / 2007 46 . 104 sel / ml
2 22 / 10 / 2007 64 . 104 sel / ml
3 23 / 10 / 2007 74 . 104 sel / ml
4 24 / 10 / 2007 86 . 104 sel / ml
5 25 / 10 2007 92 . 104 sel / ml
6 26 / 10 / 2007 92 . 104 sel / ml
7 27 / 10 / 2007 79 . 104 sel / ml
8 28 / 10 / 2007 77 . 104 sel / ml
Dalam pertumbuhan clorella sp mengalami 3 fase pertumbuhan yaitu pertumbuhan awal, pertumbuhan puncak fese kematian pertumbuhan phytoplankton di tandai dengan berubahnya warna air yang semulanya jernih, puncak kepadatan plankton pada tanggal 24 – 26 oktober 2007 dengan kepadatan total 920000 sel / ml.ini disebabkan olah bahang – bahan organic yang mendukung pertumbuhan phytoplankton sudah mulai habis
Dalam praktek yang kami lakukan kami membutuhkan pupuk
( Urea, Tsp,Kcl ). Wadah yang kami gunakan yaitu viber dengan volume air yaitu 88,4 liter sehingga kebutuhan pupuk yaitu
Urea = 800 mg x 88,4 L
= 70,720 mg
= 70,8 gr
Tsp = 15 mg x 88,4 L
= 1326 mg
= 1,3 gr
Kcl = 40 mg x 88,4 L
= 3536 mg
= 3,5 gr
Adapun grafik pertumbuhan clorella sp sbb :
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dalam kegiatan budidaya pakan alami, kita harus tau bahan apa saja yang di gunakan
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam budidaya maka harus memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi kegiatan budidaya.
Saran
Saran
Sarana prasarana harus lengkap sehingga praktikum berjalan lancer
Alat yang suda rusak sebaiknya di ganti sehingga dapat di perolah hasil yang efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Djarija Abbas siregar. 1995. pakan ikan alami. Jokjakarata ; Kanisius
Hefni effendi 2007. Telaah kualitas air; kanisius 2003
PERHITUNGAN PHYTOPLANKTON
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Larar belakang
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
Selama ini produksi pakan ikan alami dilakukan oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan, atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa.
1.2 Tujuan
Agar mahasiswa tau mengitun populasi pakan alami
Untuk meninkatkan keterampilan mahasiswa dalam melakukan perhitungan populasi pakan alami
Dalam praktek di harapkan mahasiswa pada saatr praktek tidak bermain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong.
Fitoplanton adalah jasad nabatiyaang dapat melakukan fotosintesis. Ukurannya relatif lebih kecil dari zooplankton. Terdiri dari satu sel atau beberapa sel. Bentuknya berfariasi, yaitu bulat oval hingga seperti benang sedankan zooplankton dan bentos adalah jasat hewani , terdii atas banyak sel, bentuknya berfariasi yaitu separti piala, oval hingga bersekmen sekmen.
BAB III
METODOLOGI
2.1 Waktu dan tempat
Adapun wakyu pelaksanaan kegiatan praktek tentan perhitungab populasi phitoplanton tanggal satu oktober 2007
Bertempat di lep depertemen perikanan.
2.2 kebutuhan alat dan bahan
Alat
• Mikroskop
• Pralatan glass ( pipet, demeyer, piper glass dan tabung reaksi )
• Heamocytomete
• Cover
Bahan
• Air kolam
2.3 langkah kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 hasil
Dari prakik yang kami lakukan kami menemukan beribu – ribu jenis planton di dalam suatu perairan. Phyotoplanton berkemban biak dengan cara seksual dan aseksual.
Jiak kita melakukan kultur pakan alami kita harus bias melakukan perhitungan banyaknya planton yang kita budidayakan di dalam wadah budidaya rumus yang kita gunakan adalah hasil perhitungan rata – rata x 400 x 104 maka hasil perkalian rumus trsebut itulah banyaknya phytoplankton yang ada dalam wadah budadaya.
Dalam melakukan perhitungan populasi phytoplankton terlebih dahulu kita mengambil sample sebelum di teliti di dalam mikroskop kita haru s menggunakan alat yaitu : heacytometer.
Gambarnya sebagai berikut :
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu :
6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel /
4.2 Pembahasan
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
Adapun wakyu pelaksanaan kegiatan praktek tentan perhitungab populasi phitoplanton tanggal satu oktober 2007
Bertempat di lep depertemen perikanan.
kebutuhan alat dan bahan
• Mikroskop
• Pralatan glass ( pipet, demeyer, piper glass dan tabung reaksi )
• Heamocytomete
• Cover
• Air kolam
Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong.
Dalam melakukan perhitungan populasi phytoplankton terlebih dahulu kita mengambil sample sebelum di teliti di dalam mikroskop kita haru s menggunakan alat yaitu : heacytometer.
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu :
6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel /
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Jika kita melakukan kultur masal pakan alami maka kita harus bias melakukan perhitungan populasai pakan alami yang kita kultur.
Tidak semua pakan alami yang dapat kita budidayakan contohnya yang biasa di budidayakan : a) Chlorella, b) Tetraselmis, (c) Dunaliella, (d) Diatomae,
# (e) Spirulina, (f) Brachionus; (g) Artemia, (h) Infusoria; (i) Kutu Air, j) Jentik- jentik
Nyamuk, (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut dan, (l) Ulat Hongkong.
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut Dalam perhitungan kami mengambil tiga anggka yang sering keluar yaitu :
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu : 6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel / .
5.2 saran
Dalam melakukan praktek hendaknya perhatikan keselamatan kerja
Melakukan praktek jagalah alat - alat agar tidak ada yang rusak atau pecah
Dan jika praktek jangan bermain – main.
DAFTAR PUSTAKA
Ir. ABBAS SIREGAR DJRIJAH. 2006. pakan ikan alami. Kanisius, yogjakarta.
Ir. Yusuf Baktiar. 2006. Panduan lengkap Budidaya lele dumbo .agromedia pustaka. Jakarta.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sejalan dengan pesatnya usaha di bidang perikanan, di rasakan sangat besar peranan pakan alami bagi usaha budidaya ikan, khususnya bagi uasa pembenihsn ikan. Tetapi masalahnya adalah para petani belum banyak mengenal martinya pakan alami bagi usaha pembenihan ikan secara kuantitas [akan alami tidak bias dig anti dengan pakan buatang . karena pada fase larva merupakan fase yang paling kritis dalam kematian benih. Dengan pakan alamin ikan menemukan jenis pakan yang sangat cocok bagi larfa ikan.
Ketersediaan pakn yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik sangat di perlukan, agar angka kematian dan tinggkat daya serang penyakit dapat di tekankan serendah mungkin. Pakan alami dengan berbagai kelebihan sangat cocok bagi benih ikan sebagaian besar pakan alami dangan berbagai kelebihan sangat cocok bagi benih ikan. Sebagain besar pakan alami adalah plankton baik dari zooplankton maupun phytoplankton pakan ini hidup bebas di berbagai perairan, dan mampu berkambang baik secara cepat,.
Berbagai pakan alami yang dapat di produksi secara masal ialah Dapnia sp, artemia sp, rotifera, cholorella, dan cacing tubifex. Jika kita budidaya pakan alami harus sesuai dengan habitatnya jika tidak sesuai maka pakan alami tersebut tidak akan hidup / mati.budidaya pakan alami tidak terlalu memakan tempat yang luas,
keunggulan pakan alami ialah :
1. Pakan ikan alami relative kecil sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih ikan.
2. Nilai gizinya tinggi
3. Mudah di budidaya secara masal
4. tidak mengandun racun dan tidak mencemari lingkungan hidup larva
5. Dalam membudidayakan tidak memerlukan banyak biaya
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini praktek budidaya pakan ikan alami adalah
1. Untuk mengetahui prosedur dan identifikasi ( Phytoplankton dan zooplankton ) sehingga dapat mengetahui cirri-ciri dari masing-masing.
2. Mengetahui teknik perhitungan phyplankton
3. Mengetahui perkembangan polankton
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Phyplankton
Phytoplankton adalah organisme air yang melayang – laying mengikuti pergerakan air jenis phyplankton yang mendominasi penkulkturan yaitu ;
2.2 Clorella sp
Klasifikasi Clorella sp
Klasifikasi clorella sp menurut doctor soetatwo hediwigena adalah sebagai berikaut
Divisi : Clorophyta
Kelas : Clorophycea
Bangsa : Clorococcales
Suku : chorellaceae
Marga : Clorella
Jenis : clorella sp
Morfolopgi Clorella sp
Clorella sp berbantuk bulat atau bulat telur, berukuran 3-5 mokron. Memiliki kloroplas seperti cawan, dindingnya keras, padat, dan garis tegahnya 5 mikron. Serta tidak bergerak aktif dan setiap selnya terdapat inti dan cloroplas.
Ekologi clorella sp
Clorella sp dapat hidup dimana –mana, di media air tawar, air payau, air laut. Kecuali di gurun pasir dan salju, sebagain besar banyak hidup di perairan air tawar. Clorella sp dapat tunbuh debngan baik pada berbagain yang banyak mengandun unsure hara, seperti N, P, K dan unsure mikro lainnya. Clorella dapat tubuh baik dangan suhu optimal 240 C.
Daur hudup clorella sp
Clorella sp berkembang biak secara vegetative ( aseksual ) dan generatif ( seksual ), secara aseksual yaitu dengan cara membelah sel. Clorella sp akan terus berkamban biak biak jika kondisi lingkungan memunkinkan. Sedangkan perkembvangan secara vegetative belumbanyak di ketahui.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan kultur budidaya pakan ikan alami yang meliputi kultur phytoplankton di lakukan dari tanggal 15 0ktober 2007 sampai 28 oktober 2007. tempat pelaksanaan kultur budidaya pakan alami di laksanakan di depertemen perikanan VEDCA Cianjur jawa barat.
3.2 Alat dan bahan
Alat dan bahan yang di gunakan dalam kultur pakan alami ini adalah sebagai berikut
3.2.1 Budidaya Phytoplankton air tawar
Alat :
Mikroskop
Heocitometer
Kaca preparat
Cawan Petri
Tissu Bahan :
Air
Pupuk komersial ( urea, tsp, kcl )
Clorella sp
3.3 Prosedur kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum budidaya pakan alami ini di laksanakan mulai tanggal 15 Oktober sampai 28 oktober 2007.
4.1 Budidaya phytoplankton
Adapun data pertumbuhan dari phytoplankton jenis clorella sp adalah sebagai berikut :
Hasil perhitungan kepadatan phytoplankton
No Tanggal pengamatan Hasil pengamatan
1 18 / 10 / 2007 46 . 104 sel / ml
2 22 / 10 / 2007 64 . 104 sel / ml
3 23 / 10 / 2007 74 . 104 sel / ml
4 24 / 10 / 2007 86 . 104 sel / ml
5 25 / 10 2007 92 . 104 sel / ml
6 26 / 10 / 2007 92 . 104 sel / ml
7 27 / 10 / 2007 79 . 104 sel / ml
8 28 / 10 / 2007 77 . 104 sel / ml
Dalam pertumbuhan clorella sp mengalami 3 fase pertumbuhan yaitu pertumbuhan awal, pertumbuhan puncak fese kematian pertumbuhan phytoplankton di tandai dengan berubahnya warna air yang semulanya jernih, puncak kepadatan plankton pada tanggal 24 – 26 oktober 2007 dengan kepadatan total 920000 sel / ml.ini disebabkan olah bahang – bahan organic yang mendukung pertumbuhan phytoplankton sudah mulai habis
Dalam praktek yang kami lakukan kami membutuhkan pupuk
( Urea, Tsp,Kcl ). Wadah yang kami gunakan yaitu viber dengan volume air yaitu 88,4 liter sehingga kebutuhan pupuk yaitu
Urea = 800 mg x 88,4 L
= 70,720 mg
= 70,8 gr
Tsp = 15 mg x 88,4 L
= 1326 mg
= 1,3 gr
Kcl = 40 mg x 88,4 L
= 3536 mg
= 3,5 gr
Adapun grafik pertumbuhan clorella sp sbb :
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dalam kegiatan budidaya pakan alami, kita harus tau bahan apa saja yang di gunakan
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam budidaya maka harus memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi kegiatan budidaya.
Saran
Saran
Sarana prasarana harus lengkap sehingga praktikum berjalan lancer
Alat yang suda rusak sebaiknya di ganti sehingga dapat di perolah hasil yang efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Djarija Abbas siregar. 1995. pakan ikan alami. Jokjakarata ; Kanisius
Hefni effendi 2007. Telaah kualitas air; kanisius 2003
PENDAHULUAN
1.1 Larar belakang
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
Selama ini produksi pakan ikan alami dilakukan oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan, atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa.
1.2 Tujuan
Agar mahasiswa tau mengitun populasi pakan alami
Untuk meninkatkan keterampilan mahasiswa dalam melakukan perhitungan populasi pakan alami
Dalam praktek di harapkan mahasiswa pada saatr praktek tidak bermain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong.
Fitoplanton adalah jasad nabatiyaang dapat melakukan fotosintesis. Ukurannya relatif lebih kecil dari zooplankton. Terdiri dari satu sel atau beberapa sel. Bentuknya berfariasi, yaitu bulat oval hingga seperti benang sedankan zooplankton dan bentos adalah jasat hewani , terdii atas banyak sel, bentuknya berfariasi yaitu separti piala, oval hingga bersekmen sekmen.
BAB III
METODOLOGI
2.1 Waktu dan tempat
Adapun wakyu pelaksanaan kegiatan praktek tentan perhitungab populasi phitoplanton tanggal satu oktober 2007
Bertempat di lep depertemen perikanan.
2.2 kebutuhan alat dan bahan
Alat
• Mikroskop
• Pralatan glass ( pipet, demeyer, piper glass dan tabung reaksi )
• Heamocytomete
• Cover
Bahan
• Air kolam
2.3 langkah kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 hasil
Dari prakik yang kami lakukan kami menemukan beribu – ribu jenis planton di dalam suatu perairan. Phyotoplanton berkemban biak dengan cara seksual dan aseksual.
Jiak kita melakukan kultur pakan alami kita harus bias melakukan perhitungan banyaknya planton yang kita budidayakan di dalam wadah budidaya rumus yang kita gunakan adalah hasil perhitungan rata – rata x 400 x 104 maka hasil perkalian rumus trsebut itulah banyaknya phytoplankton yang ada dalam wadah budadaya.
Dalam melakukan perhitungan populasi phytoplankton terlebih dahulu kita mengambil sample sebelum di teliti di dalam mikroskop kita haru s menggunakan alat yaitu : heacytometer.
Gambarnya sebagai berikut :
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu :
6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel /
4.2 Pembahasan
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
Adapun wakyu pelaksanaan kegiatan praktek tentan perhitungab populasi phitoplanton tanggal satu oktober 2007
Bertempat di lep depertemen perikanan.
kebutuhan alat dan bahan
• Mikroskop
• Pralatan glass ( pipet, demeyer, piper glass dan tabung reaksi )
• Heamocytomete
• Cover
• Air kolam
Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong.
Dalam melakukan perhitungan populasi phytoplankton terlebih dahulu kita mengambil sample sebelum di teliti di dalam mikroskop kita haru s menggunakan alat yaitu : heacytometer.
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu :
6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel /
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Jika kita melakukan kultur masal pakan alami maka kita harus bias melakukan perhitungan populasai pakan alami yang kita kultur.
Tidak semua pakan alami yang dapat kita budidayakan contohnya yang biasa di budidayakan : a) Chlorella, b) Tetraselmis, (c) Dunaliella, (d) Diatomae,
# (e) Spirulina, (f) Brachionus; (g) Artemia, (h) Infusoria; (i) Kutu Air, j) Jentik- jentik
Nyamuk, (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut dan, (l) Ulat Hongkong.
Sehigga hasil yang kami peroleh adalah sebagai berikut Dalam perhitungan kami mengambil tiga anggka yang sering keluar yaitu :
Dalam perhitungan kami mengambil tigaa angka yang serin keluar yaitu : 6 + 3 + 7 = 16 ÷ 3 = 5 sehingga hasilnya 5 x 400 x 104 = 20 000 000 sel / .
5.2 saran
Dalam melakukan praktek hendaknya perhatikan keselamatan kerja
Melakukan praktek jagalah alat - alat agar tidak ada yang rusak atau pecah
Dan jika praktek jangan bermain – main.
DAFTAR PUSTAKA
Ir. ABBAS SIREGAR DJRIJAH. 2006. pakan ikan alami. Kanisius, yogjakarta.
Ir. Yusuf Baktiar. 2006. Panduan lengkap Budidaya lele dumbo .agromedia pustaka. Jakarta.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sejalan dengan pesatnya usaha di bidang perikanan, di rasakan sangat besar peranan pakan alami bagi usaha budidaya ikan, khususnya bagi uasa pembenihsn ikan. Tetapi masalahnya adalah para petani belum banyak mengenal martinya pakan alami bagi usaha pembenihan ikan secara kuantitas [akan alami tidak bias dig anti dengan pakan buatang . karena pada fase larva merupakan fase yang paling kritis dalam kematian benih. Dengan pakan alamin ikan menemukan jenis pakan yang sangat cocok bagi larfa ikan.
Ketersediaan pakn yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik sangat di perlukan, agar angka kematian dan tinggkat daya serang penyakit dapat di tekankan serendah mungkin. Pakan alami dengan berbagai kelebihan sangat cocok bagi benih ikan sebagaian besar pakan alami dangan berbagai kelebihan sangat cocok bagi benih ikan. Sebagain besar pakan alami adalah plankton baik dari zooplankton maupun phytoplankton pakan ini hidup bebas di berbagai perairan, dan mampu berkambang baik secara cepat,.
Berbagai pakan alami yang dapat di produksi secara masal ialah Dapnia sp, artemia sp, rotifera, cholorella, dan cacing tubifex. Jika kita budidaya pakan alami harus sesuai dengan habitatnya jika tidak sesuai maka pakan alami tersebut tidak akan hidup / mati.budidaya pakan alami tidak terlalu memakan tempat yang luas,
keunggulan pakan alami ialah :
1. Pakan ikan alami relative kecil sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih ikan.
2. Nilai gizinya tinggi
3. Mudah di budidaya secara masal
4. tidak mengandun racun dan tidak mencemari lingkungan hidup larva
5. Dalam membudidayakan tidak memerlukan banyak biaya
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini praktek budidaya pakan ikan alami adalah
1. Untuk mengetahui prosedur dan identifikasi ( Phytoplankton dan zooplankton ) sehingga dapat mengetahui cirri-ciri dari masing-masing.
2. Mengetahui teknik perhitungan phyplankton
3. Mengetahui perkembangan polankton
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Phyplankton
Phytoplankton adalah organisme air yang melayang – laying mengikuti pergerakan air jenis phyplankton yang mendominasi penkulkturan yaitu ;
2.2 Clorella sp
Klasifikasi Clorella sp
Klasifikasi clorella sp menurut doctor soetatwo hediwigena adalah sebagai berikaut
Divisi : Clorophyta
Kelas : Clorophycea
Bangsa : Clorococcales
Suku : chorellaceae
Marga : Clorella
Jenis : clorella sp
Morfolopgi Clorella sp
Clorella sp berbantuk bulat atau bulat telur, berukuran 3-5 mokron. Memiliki kloroplas seperti cawan, dindingnya keras, padat, dan garis tegahnya 5 mikron. Serta tidak bergerak aktif dan setiap selnya terdapat inti dan cloroplas.
Ekologi clorella sp
Clorella sp dapat hidup dimana –mana, di media air tawar, air payau, air laut. Kecuali di gurun pasir dan salju, sebagain besar banyak hidup di perairan air tawar. Clorella sp dapat tunbuh debngan baik pada berbagain yang banyak mengandun unsure hara, seperti N, P, K dan unsure mikro lainnya. Clorella dapat tubuh baik dangan suhu optimal 240 C.
Daur hudup clorella sp
Clorella sp berkembang biak secara vegetative ( aseksual ) dan generatif ( seksual ), secara aseksual yaitu dengan cara membelah sel. Clorella sp akan terus berkamban biak biak jika kondisi lingkungan memunkinkan. Sedangkan perkembvangan secara vegetative belumbanyak di ketahui.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan kultur budidaya pakan ikan alami yang meliputi kultur phytoplankton di lakukan dari tanggal 15 0ktober 2007 sampai 28 oktober 2007. tempat pelaksanaan kultur budidaya pakan alami di laksanakan di depertemen perikanan VEDCA Cianjur jawa barat.
3.2 Alat dan bahan
Alat dan bahan yang di gunakan dalam kultur pakan alami ini adalah sebagai berikut
3.2.1 Budidaya Phytoplankton air tawar
Alat :
Mikroskop
Heocitometer
Kaca preparat
Cawan Petri
Tissu Bahan :
Air
Pupuk komersial ( urea, tsp, kcl )
Clorella sp
3.3 Prosedur kerja
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum budidaya pakan alami ini di laksanakan mulai tanggal 15 Oktober sampai 28 oktober 2007.
4.1 Budidaya phytoplankton
Adapun data pertumbuhan dari phytoplankton jenis clorella sp adalah sebagai berikut :
Hasil perhitungan kepadatan phytoplankton
No Tanggal pengamatan Hasil pengamatan
1 18 / 10 / 2007 46 . 104 sel / ml
2 22 / 10 / 2007 64 . 104 sel / ml
3 23 / 10 / 2007 74 . 104 sel / ml
4 24 / 10 / 2007 86 . 104 sel / ml
5 25 / 10 2007 92 . 104 sel / ml
6 26 / 10 / 2007 92 . 104 sel / ml
7 27 / 10 / 2007 79 . 104 sel / ml
8 28 / 10 / 2007 77 . 104 sel / ml
Dalam pertumbuhan clorella sp mengalami 3 fase pertumbuhan yaitu pertumbuhan awal, pertumbuhan puncak fese kematian pertumbuhan phytoplankton di tandai dengan berubahnya warna air yang semulanya jernih, puncak kepadatan plankton pada tanggal 24 – 26 oktober 2007 dengan kepadatan total 920000 sel / ml.ini disebabkan olah bahang – bahan organic yang mendukung pertumbuhan phytoplankton sudah mulai habis
Dalam praktek yang kami lakukan kami membutuhkan pupuk
( Urea, Tsp,Kcl ). Wadah yang kami gunakan yaitu viber dengan volume air yaitu 88,4 liter sehingga kebutuhan pupuk yaitu
Urea = 800 mg x 88,4 L
= 70,720 mg
= 70,8 gr
Tsp = 15 mg x 88,4 L
= 1326 mg
= 1,3 gr
Kcl = 40 mg x 88,4 L
= 3536 mg
= 3,5 gr
Adapun grafik pertumbuhan clorella sp sbb :
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dalam kegiatan budidaya pakan alami, kita harus tau bahan apa saja yang di gunakan
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam budidaya maka harus memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi kegiatan budidaya.
Saran
Saran
Sarana prasarana harus lengkap sehingga praktikum berjalan lancer
Alat yang suda rusak sebaiknya di ganti sehingga dapat di perolah hasil yang efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Djarija Abbas siregar. 1995. pakan ikan alami. Jokjakarata ; Kanisius
Hefni effendi 2007. Telaah kualitas air; kanisius 2003
JENIS-JENIS PAKAN IKAN
JENIS-JENIS PAKAN IKAN
Pakan Hidup
Pakan hidup terdiri dari:
• ikan hidup, cacing, invertebrata akuatik, seperti Daphnia atau Artemia, larva serangga seperti Bloodworm, dan jentik nyamuk
• Infusoria, rotifera, paramecium
Beberapa jenis dapat dibeli, sedangkan jenis yang lain harus dikumpulkan sendiri.
Keuntungan: Banyak pakan hidup merupakan pakan alami ikan yang bersangkutan atau setidaknya setara dengan pakan alaminya. Pakan tersebut mengandung banyak serat sehingga pencernaannya akan tetap terjaga dengan baik. Pakan hidup dapat membantu ikan untuk memasuki kondisi kawin dan merangsang masa kawin, terutama, pada spesies-spesies yang masa kawinnya di alam didahului dengan meningkatnya pesediaan pakan hidup.
Kerugian: Seringkali pakan hidup bersifat musiman, sehingga pada saat tertentu sulit didapat. Dapat membawa hama dan penyakit, seperti cacing sutera (Tubifex sp), yang hidup pada lumpur tercemar, sehingga bisa mengimpor bakteri terhadap lingkungan akuarium. Hama seperti larva capung atau hydra bisa secara tidak sengaja ( melalui Daphnia atau Cyclops) masuk ke akuarium dan memangsa burayak.
Setiap akuaris harus dapat mempertimbangkan pemberian pakan hidup ini dengan sagala resikonya, dengan mengembangkan cara-cara pencegahan yang memadai.
Pakan Segar
Beberapa jenis makanan manusia kurang lebih bisa sesuai untuk pakan ikan. Meskipun demikian, perlu dipilih yang benar-benar cocok atau setara dengan pakan alami ikan yang bersangkutan. Pemberian pakan binatang lain, seperti pakan untuk mamalia atau burung, walaupun sebelumnya sering digunakan, kaya dengan asam-asam lemak tapi dari jenis yang salah, sehingga perlu diseleksi dengan baik atau dihindarkan. Hal tersebut bisa menimbulkan kegemukan pada ikan atau membentuk timbunan lemak yang merusak.
Keuntungan: Sayuran seperti selada, bayam dan mentimun, dan sayuran darat lainnya akan berguna bagi ikan herbivora dan hanya akan dimakan oleh ikan jenis tersebut Perlu diperhatikan sayuran darat tersebut mengandung lebih banyak selulosa dibandingakn dengan tanaman air, sehingga perlu dilayukan dulu sebelum diberikan untuk manghancurkan selulosanya sehingga menjadi lebih mudah dicerna. Daging udang, atau kerang-kerangan merupakan pakan alami akuatik yang cocok. Pakan tersebut, pada saat ini, lebih sering digunakan untuk menggantikan protein hewan asal mamalia. Daging ikan segar merupakan pakan bagi ikan piscivora.
Kerugian: Sayuran bisa mengandung cemaran bahan-bahan kimia akibat aktifitas pertanian intensif, kecuali sayuran tersebut ditanam secara organik (biologik).
Pakan Beku
Beberapa bentuk "pakan hidup" dan segar tersedia dalam bentuk beku.
Keuntungan: Meskipun pakan beku ini telah kehilangan "geliat"nya, banyak ikan yang menyukainya, terutama dari jenis "pakan hidup" seperti bloodworm beku. Meskipun tidak 100% aman, pakan tersebut lebih sedikit resikonya dalam menularkan penyakit. Dengan dibekukan maka pakan ini bisa tersedia sepanjang tahun, sehingga dapat mengatasi kendala musim.
Kerugian: Kadar airnya tinggi. Air ini bisa mengandung hara-hara yang bisa mencemari air akuarium. Beberapa pakan hidup beku, seperti Daphnia, mengalami disintegrasi pada saat dibekukan, sehingga pada saat dicairkan akan menghasilkan larutan air yang kaya akan unsur hara. Hal ini sangat berpotensial untuk menimbulkan pencemaran. Air pada artemia beku bisa bersifat asin, dan menyumbangkan unsur Na pada air akuarium.
Beberapa orang merasa tidak sreg apabila pakan binatang disatukan dengan pakan manusia bersama-sama dalam satu akuarium. Meskipun demikian, dari segi higienis tidak akan menimbulkan masalah selama pakan tersebut dipisahkan dalam kontainer yang berbeda dan freezer selalu bekerja dengan baik
Pakan Botolan
Pakan botolan dari jenis pakan hidup merupakan temuan yang relatif baru dan masih terus dikembangkan. Contoh awal pakan botolan ini ternyata tidak disukai oleh ikan karena kehadiran bahan-bahan pengawet.
Keuntungan: Seperti halnya pakan beku, tetapi dalam hal ini tidak memerlukan mesin pendingin dan tidak terjadi disintegrasi bahan seperti terjadi pada saat pencairan pakan beku.
Kerugian: Sulit disukai oleh ikan karena terdapatnya bahan pengawet.
Pakan Beku Kering
Berbagai pakan dalam bentuk beku kering sudah tersedia
Keuntungan: Metoda yang digunakan menyebabkan pakan relatif steril dari penyakit
Kerugian: Berapa ikan enggan memakan jenis pakan ini. Perendaman sering bisa membantu ikan untuk menyukai pakan tersebut. Pakan jenis ini bisa kehilangan kandungan vitaminnya.
Pakan Kering
Pakan jenis ini merupakan pakan ikan paling populer. Meskipun produsen pakan ikan kering telah mebuat pakan kering ini sedemikian rupa sehingga cocok untuk ikan karnivra, herbivora, dan omnivora, terdapat kecenderungan mereka memproduksi jenis khusus yang berbeda untuk karnivora dan herbvora. Untuk itu perlu diperhatikan dengan baik pada saat membeli pakan kering yang bersangkutan. Sangat penting dipertimbangkan agar hanya membeli pakan-pakan yang telah diformulasikan secara saintifik dan diproduksi oleh perusahan berepusasi baik, serta khusus dipertuntukkan bagi ikan, meskipun pakan kering lain dengan harga lebih murah tersedia.
Keuntungan: Mudah dalam penyimpanan dan penggunaan; tersedia secara konstan; semua elemen-elemen esensial yang diperlukan ikan telah disediakan dengan baik; tidak ada bahaya pencemaran hama dan penyakit.
Kerugian: Terdapat kecenderungan pakan kering saat ini dibuat lebih pekat dan lebih mudah dicerna, sedangkan para akuaris cenderung boros dalam pemberian. Hal ini dapat memicu terjadinya pencemaran amonia dan nitrit. Beberapa jenis ikan menunjukkan gejala kurus, dan mengalami kelainan pencernaan apabila hanya diberikan pkan kering saja, dan beberapa jenis lainnya enggan memakan pakan kering. Beberapa jenis vitamin, seperti vitamin C terdegradasi dalam penyimpanan yang lama. Pakan kering dalam bentuk flake cenderung rawan terhadap pencucian vitamin pada saat kontak dengan air akuarium dibandingkan dengan pellet.
Pakan Hidup
Pakan hidup terdiri dari:
• ikan hidup, cacing, invertebrata akuatik, seperti Daphnia atau Artemia, larva serangga seperti Bloodworm, dan jentik nyamuk
• Infusoria, rotifera, paramecium
Beberapa jenis dapat dibeli, sedangkan jenis yang lain harus dikumpulkan sendiri.
Keuntungan: Banyak pakan hidup merupakan pakan alami ikan yang bersangkutan atau setidaknya setara dengan pakan alaminya. Pakan tersebut mengandung banyak serat sehingga pencernaannya akan tetap terjaga dengan baik. Pakan hidup dapat membantu ikan untuk memasuki kondisi kawin dan merangsang masa kawin, terutama, pada spesies-spesies yang masa kawinnya di alam didahului dengan meningkatnya pesediaan pakan hidup.
Kerugian: Seringkali pakan hidup bersifat musiman, sehingga pada saat tertentu sulit didapat. Dapat membawa hama dan penyakit, seperti cacing sutera (Tubifex sp), yang hidup pada lumpur tercemar, sehingga bisa mengimpor bakteri terhadap lingkungan akuarium. Hama seperti larva capung atau hydra bisa secara tidak sengaja ( melalui Daphnia atau Cyclops) masuk ke akuarium dan memangsa burayak.
Setiap akuaris harus dapat mempertimbangkan pemberian pakan hidup ini dengan sagala resikonya, dengan mengembangkan cara-cara pencegahan yang memadai.
Pakan Segar
Beberapa jenis makanan manusia kurang lebih bisa sesuai untuk pakan ikan. Meskipun demikian, perlu dipilih yang benar-benar cocok atau setara dengan pakan alami ikan yang bersangkutan. Pemberian pakan binatang lain, seperti pakan untuk mamalia atau burung, walaupun sebelumnya sering digunakan, kaya dengan asam-asam lemak tapi dari jenis yang salah, sehingga perlu diseleksi dengan baik atau dihindarkan. Hal tersebut bisa menimbulkan kegemukan pada ikan atau membentuk timbunan lemak yang merusak.
Keuntungan: Sayuran seperti selada, bayam dan mentimun, dan sayuran darat lainnya akan berguna bagi ikan herbivora dan hanya akan dimakan oleh ikan jenis tersebut Perlu diperhatikan sayuran darat tersebut mengandung lebih banyak selulosa dibandingakn dengan tanaman air, sehingga perlu dilayukan dulu sebelum diberikan untuk manghancurkan selulosanya sehingga menjadi lebih mudah dicerna. Daging udang, atau kerang-kerangan merupakan pakan alami akuatik yang cocok. Pakan tersebut, pada saat ini, lebih sering digunakan untuk menggantikan protein hewan asal mamalia. Daging ikan segar merupakan pakan bagi ikan piscivora.
Kerugian: Sayuran bisa mengandung cemaran bahan-bahan kimia akibat aktifitas pertanian intensif, kecuali sayuran tersebut ditanam secara organik (biologik).
Pakan Beku
Beberapa bentuk "pakan hidup" dan segar tersedia dalam bentuk beku.
Keuntungan: Meskipun pakan beku ini telah kehilangan "geliat"nya, banyak ikan yang menyukainya, terutama dari jenis "pakan hidup" seperti bloodworm beku. Meskipun tidak 100% aman, pakan tersebut lebih sedikit resikonya dalam menularkan penyakit. Dengan dibekukan maka pakan ini bisa tersedia sepanjang tahun, sehingga dapat mengatasi kendala musim.
Kerugian: Kadar airnya tinggi. Air ini bisa mengandung hara-hara yang bisa mencemari air akuarium. Beberapa pakan hidup beku, seperti Daphnia, mengalami disintegrasi pada saat dibekukan, sehingga pada saat dicairkan akan menghasilkan larutan air yang kaya akan unsur hara. Hal ini sangat berpotensial untuk menimbulkan pencemaran. Air pada artemia beku bisa bersifat asin, dan menyumbangkan unsur Na pada air akuarium.
Beberapa orang merasa tidak sreg apabila pakan binatang disatukan dengan pakan manusia bersama-sama dalam satu akuarium. Meskipun demikian, dari segi higienis tidak akan menimbulkan masalah selama pakan tersebut dipisahkan dalam kontainer yang berbeda dan freezer selalu bekerja dengan baik
Pakan Botolan
Pakan botolan dari jenis pakan hidup merupakan temuan yang relatif baru dan masih terus dikembangkan. Contoh awal pakan botolan ini ternyata tidak disukai oleh ikan karena kehadiran bahan-bahan pengawet.
Keuntungan: Seperti halnya pakan beku, tetapi dalam hal ini tidak memerlukan mesin pendingin dan tidak terjadi disintegrasi bahan seperti terjadi pada saat pencairan pakan beku.
Kerugian: Sulit disukai oleh ikan karena terdapatnya bahan pengawet.
Pakan Beku Kering
Berbagai pakan dalam bentuk beku kering sudah tersedia
Keuntungan: Metoda yang digunakan menyebabkan pakan relatif steril dari penyakit
Kerugian: Berapa ikan enggan memakan jenis pakan ini. Perendaman sering bisa membantu ikan untuk menyukai pakan tersebut. Pakan jenis ini bisa kehilangan kandungan vitaminnya.
Pakan Kering
Pakan jenis ini merupakan pakan ikan paling populer. Meskipun produsen pakan ikan kering telah mebuat pakan kering ini sedemikian rupa sehingga cocok untuk ikan karnivra, herbivora, dan omnivora, terdapat kecenderungan mereka memproduksi jenis khusus yang berbeda untuk karnivora dan herbvora. Untuk itu perlu diperhatikan dengan baik pada saat membeli pakan kering yang bersangkutan. Sangat penting dipertimbangkan agar hanya membeli pakan-pakan yang telah diformulasikan secara saintifik dan diproduksi oleh perusahan berepusasi baik, serta khusus dipertuntukkan bagi ikan, meskipun pakan kering lain dengan harga lebih murah tersedia.
Keuntungan: Mudah dalam penyimpanan dan penggunaan; tersedia secara konstan; semua elemen-elemen esensial yang diperlukan ikan telah disediakan dengan baik; tidak ada bahaya pencemaran hama dan penyakit.
Kerugian: Terdapat kecenderungan pakan kering saat ini dibuat lebih pekat dan lebih mudah dicerna, sedangkan para akuaris cenderung boros dalam pemberian. Hal ini dapat memicu terjadinya pencemaran amonia dan nitrit. Beberapa jenis ikan menunjukkan gejala kurus, dan mengalami kelainan pencernaan apabila hanya diberikan pkan kering saja, dan beberapa jenis lainnya enggan memakan pakan kering. Beberapa jenis vitamin, seperti vitamin C terdegradasi dalam penyimpanan yang lama. Pakan kering dalam bentuk flake cenderung rawan terhadap pencucian vitamin pada saat kontak dengan air akuarium dibandingkan dengan pellet.
PENENTUAN JENIS PAKAN
Penentuan Jenis Pakan
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa berdasarkan jenis makanannya udang bersifat omnivora yaitu jenis biota pemakan segala jenis makanan yang ada di dalam perairan terutama yang hidup di dasar perairan (demersal). Di habitat alaminya jenis makanan yang dikonsumsi oleh udang sangat bervariasi mulai dari detritus, tanaman dan hewan air yang berukuran kecil sampai bangkai biota perairan lainnya. Sifatnya yang rakus terhadap berbagai jenis makanan yang dijumpainya mengarahkan udang pada sifat kanibalisme yaitu memangsa udang lainnya baik dalam kondisi lemah maupun yang sudah mati.
Di dalam kegiatan budidaya jenis pakan yang biasa diberikan/disediakan kepada udang antara lain :
• Pakan alami, yaitu jenis pakan yang tumbuh dengan sendirinya atau sengaja ditumbuhkan di dalam petakan tambak dan mempunyai sifat seperti di dalam habitat alaminya;
• Pakan buatan, yaitu pakan udang yang dibuat dalam skala industri dengan komposisi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan udang dan diberikan untuk menyuplai makanan pada tambak dengan tingkat ketersediaan pakan alaminya telah menipis/habis sama sekali;
• Pakan segar, yaitu jenis pakan yang berasal dari hewan/biota perairan yang telah diolah sedemikian rupa dan diberikan dalam kondisi masih segar kepada udang dengan tujuan memperbaiki kualitas dan kondisi udang atau untuk meningkatkan nafsu makan udang yang terindikasi terkena masalah tertentu;
• Pakan tambahan lainnya, yaitu pakan yang bersifat sebagai suplemen dari pakan buatan dan dapat diberikan secara campuran dengan pakan buatan maupun terpisah dengan tujuan mengisi kekurangan nutrisi tertentu dari pakan buatan.
Meskipun terdapat beberapa jenis pakan yang bisa diberikan kepada udang di tambak, dalam penerapannya ke empat jenis pakan tersebut di atas biasa diberikan.
1. Pakan Alami
Penyediaan pakan alami bagi udang banyak dilakukan pada kegiatan budidaya pola tradisional dengan karakteristik padat penebaran rendah dan penggunaan teknologi budidaya sangat minim. Program pemberian pakan pada budidaya dengan pola ini lebih banyak tergantung dan mengandalkan ketersediaan pakan alami yang ada di dalam tambak, sedangkan penggunaan pakan buatan terbatas pada pakan yang dibuat sendiri dengan frekuensi pemberian pakan sangat terbatas.
Pada tambak dengan pola intensif dengan padat penebaran yang relatif padat dan penggunaan teknologi budidaya yang sudah maju penyediaan pakan alami lebih ditekankan pada udang usia tebar (benur). Kegiatan tersebut dilakukan melalui penyiapan lahan tebar secara optimal yang memungkinkan tumbuhnya zooplankthon atau organisme renik lainnya yang berfungsi sebagai pakan alami bagi benur di dalam perairan tambak. Ketersediaan pakan alami di dalam tambak yang cukup memadai diharapkan dapat menghasilkan tingkat kehidupan yang tinggi bagi udang usia tebar.
Jenis-jenis pakan alami yang biasa tumbuh atau dikembangkan di dalam tambak antara lain :
• Zooplankthon terutama dari jenis diatomae. Biota ini dapat diamati penampakannya melalui pengamatan visual ke dalam tambak atau pengamatan secara laboratorium. Jenis pakan alami ini lebih banyak dikonsumsi oleh udang usia tebar atau udang yang masih berukuran kecil;
• Jenis lumut terutama dari jenis lumut usus. Pakan alami dari jenis ini ditujukan bagi udang dewasa yang berukuran besar. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pemunculan atau pengembangan lumut di dalam tambak perlu terkontrol secara cermat densitasnya sehingga tidak menimbulkan masalah yang serius bagi udang dan kualitas air. Jenis lumut yang dapat tumbuh di dalam tambak beberapa diantaranya ada yang bersifat merugikan seperti jenis lumut rambut. Metode yang dapat digunakan dalam pengembangan lumut di dalam tambak adalah dengan menempatkan lumut pada beberapa transek kawat atau kayu dan kemudian di tempatkan secara merata di dalam perairan tersebut dengan tujuan untuk memudahkan pengontrolan populasi lumut tersebut melalui transek;
• Jenis kerang-kerangan terutama dari jenis kijing, anadara, dan kerang hijau. Seperti halnya lumut, pemunculan dan pengembangan jenis-jenis kerang ini perlu terkontrol secara cermat pula densitasnya karena biota ini bersifat sebagai plankthon feeder sehingga dapat berpengaruh pada proses pembentukan kualitas air tambak;
• Rebon, yaitu jenis udang yang berukuran kecil dan biasanya muncul dengan sendirinya di dalam tambak melalui saluran pemasukan air pada musim-musim tertentu;
• Serasah dan detritus, yaitu kotoran tambak yang berasal dari daun-daun tanamam di sekitar tambak yang jatuh dan tenggelam di dasar tambak;
• Bangkai biota perairan yang ada di dasar tambak. Jenis pakan ini lebih cenderung sebagai proses alami di dalam tambak dan terdapat dalam skala kecil serta bersifat insidental;
Satu hal mendasar yang perlu dicatat adalah pakan alami di dalam tambak merupakan sumber makanan yang menjadi pilihan utama bagi udang selama ketersediaannya masih mencukupi bagi populasi udang di tambak tersebut. Kondisi seperti ini dapat diartikan sebagai berikut : jika udang menghadapi pilihan antara pakan buatan dengan pakan alami, maka yang akan dipilih terlebih dahulu adalah pakan alami yang ada di perairan tersebut
Beberapa manfaat dari pakan alami yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan program pakan antara lain :
• Ketersediaan pakan alami yang memadai terutama pada awal-awal tebar benur dapat mempertahankan tingkat kehidupan benur/udang muda di dalam tambak;
• Ketersediaan pakan alami yang memadai terutama pada awal-awal tebar benur dapat menghasilkan tingkat keseragaman udang di dalam populasi yang relatif sama atau tidak bervariasi;
• Ketersediaan pakan alami yang memadai terutama pada awal-awal tebar benur dapat menghasilkan pertumbuhan udang yang relatif cepat dari biasanya;
• Ketersediaan pakan alami yang memadai dapat mengurangi proses akumulasi kotoran dan lumpur di dasar tambak, karena penggunaan pakan buatan sebagai penyumbang kotoran terbesar relatif masih terbatas;
• Ketersediaan pakan alami yang memadai dapat menekan biaya produksi dari penggunaan pakan buatan sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap profit value yang nantinya akan diperoleh;
Salah satu parameter yang dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat ketersediaan pakan alami di dalam tambak adalah penampakan dan kemunculan udang di permukaan maupun ancho. Pada perairan tambak dengan persediaan pakan alaminya memadai atau melimpah proses penampakkan dan pemunculan udang relatif lebih lambat dibandingkan dengan perairan tambak dengan persediaan pakan alaminya sangat kurang. Keadaan ini terjadi karena udang lebih banyak beraktifitas di dasar perairan untuk mencari pakan alami yang dibutuhkan, sehingga jarang menampakkan/muncul dipermukaan air maupun ancho.
Sebaliknya jika penampakkan dan pemunculan udang di permukaan air maupun ancho relatif lebih banyak dari kondisi biasanya maka dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi bahwa ketersediaan pakan alami di perairan tersebut telah menipis atau bahkan telah habis sama sekali. Keadaan ini terjadi karena udang akan berusaha mencari pakan yang sudah jarang ditemukan di dasar perairan tambak dan aktifitas yang biasa dilakukan udang pada kondisi seperti ini adalah dengan melakukan konvoi di sekeliling tambak atau banyak muncul di dinding tambak.
Salah satu parameter lainnya yang dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat ketersediaan pakan alami di perairan tambak adalah melalui pengamatan warna feces udang yang terdapat di bagian usus maupun yang tertinggal di ancho. Feces udang yang berasal dari pakan alami biasanya berwarna kehitaman atau tergantung dari jenis pakan alaminya. Jika dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar udang memiliki warna feces kehitaman maka dapat dijadikan indikasi bahwa tingkat ketersediaan pakan alami di perairan tersebut masih memadai.
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa berdasarkan jenis makanannya udang bersifat omnivora yaitu jenis biota pemakan segala jenis makanan yang ada di dalam perairan terutama yang hidup di dasar perairan (demersal). Di habitat alaminya jenis makanan yang dikonsumsi oleh udang sangat bervariasi mulai dari detritus, tanaman dan hewan air yang berukuran kecil sampai bangkai biota perairan lainnya. Sifatnya yang rakus terhadap berbagai jenis makanan yang dijumpainya mengarahkan udang pada sifat kanibalisme yaitu memangsa udang lainnya baik dalam kondisi lemah maupun yang sudah mati.
Di dalam kegiatan budidaya jenis pakan yang biasa diberikan/disediakan kepada udang antara lain :
• Pakan alami, yaitu jenis pakan yang tumbuh dengan sendirinya atau sengaja ditumbuhkan di dalam petakan tambak dan mempunyai sifat seperti di dalam habitat alaminya;
• Pakan buatan, yaitu pakan udang yang dibuat dalam skala industri dengan komposisi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan udang dan diberikan untuk menyuplai makanan pada tambak dengan tingkat ketersediaan pakan alaminya telah menipis/habis sama sekali;
• Pakan segar, yaitu jenis pakan yang berasal dari hewan/biota perairan yang telah diolah sedemikian rupa dan diberikan dalam kondisi masih segar kepada udang dengan tujuan memperbaiki kualitas dan kondisi udang atau untuk meningkatkan nafsu makan udang yang terindikasi terkena masalah tertentu;
• Pakan tambahan lainnya, yaitu pakan yang bersifat sebagai suplemen dari pakan buatan dan dapat diberikan secara campuran dengan pakan buatan maupun terpisah dengan tujuan mengisi kekurangan nutrisi tertentu dari pakan buatan.
Meskipun terdapat beberapa jenis pakan yang bisa diberikan kepada udang di tambak, dalam penerapannya ke empat jenis pakan tersebut di atas biasa diberikan.
1. Pakan Alami
Penyediaan pakan alami bagi udang banyak dilakukan pada kegiatan budidaya pola tradisional dengan karakteristik padat penebaran rendah dan penggunaan teknologi budidaya sangat minim. Program pemberian pakan pada budidaya dengan pola ini lebih banyak tergantung dan mengandalkan ketersediaan pakan alami yang ada di dalam tambak, sedangkan penggunaan pakan buatan terbatas pada pakan yang dibuat sendiri dengan frekuensi pemberian pakan sangat terbatas.
Pada tambak dengan pola intensif dengan padat penebaran yang relatif padat dan penggunaan teknologi budidaya yang sudah maju penyediaan pakan alami lebih ditekankan pada udang usia tebar (benur). Kegiatan tersebut dilakukan melalui penyiapan lahan tebar secara optimal yang memungkinkan tumbuhnya zooplankthon atau organisme renik lainnya yang berfungsi sebagai pakan alami bagi benur di dalam perairan tambak. Ketersediaan pakan alami di dalam tambak yang cukup memadai diharapkan dapat menghasilkan tingkat kehidupan yang tinggi bagi udang usia tebar.
Jenis-jenis pakan alami yang biasa tumbuh atau dikembangkan di dalam tambak antara lain :
• Zooplankthon terutama dari jenis diatomae. Biota ini dapat diamati penampakannya melalui pengamatan visual ke dalam tambak atau pengamatan secara laboratorium. Jenis pakan alami ini lebih banyak dikonsumsi oleh udang usia tebar atau udang yang masih berukuran kecil;
• Jenis lumut terutama dari jenis lumut usus. Pakan alami dari jenis ini ditujukan bagi udang dewasa yang berukuran besar. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pemunculan atau pengembangan lumut di dalam tambak perlu terkontrol secara cermat densitasnya sehingga tidak menimbulkan masalah yang serius bagi udang dan kualitas air. Jenis lumut yang dapat tumbuh di dalam tambak beberapa diantaranya ada yang bersifat merugikan seperti jenis lumut rambut. Metode yang dapat digunakan dalam pengembangan lumut di dalam tambak adalah dengan menempatkan lumut pada beberapa transek kawat atau kayu dan kemudian di tempatkan secara merata di dalam perairan tersebut dengan tujuan untuk memudahkan pengontrolan populasi lumut tersebut melalui transek;
• Jenis kerang-kerangan terutama dari jenis kijing, anadara, dan kerang hijau. Seperti halnya lumut, pemunculan dan pengembangan jenis-jenis kerang ini perlu terkontrol secara cermat pula densitasnya karena biota ini bersifat sebagai plankthon feeder sehingga dapat berpengaruh pada proses pembentukan kualitas air tambak;
• Rebon, yaitu jenis udang yang berukuran kecil dan biasanya muncul dengan sendirinya di dalam tambak melalui saluran pemasukan air pada musim-musim tertentu;
• Serasah dan detritus, yaitu kotoran tambak yang berasal dari daun-daun tanamam di sekitar tambak yang jatuh dan tenggelam di dasar tambak;
• Bangkai biota perairan yang ada di dasar tambak. Jenis pakan ini lebih cenderung sebagai proses alami di dalam tambak dan terdapat dalam skala kecil serta bersifat insidental;
Satu hal mendasar yang perlu dicatat adalah pakan alami di dalam tambak merupakan sumber makanan yang menjadi pilihan utama bagi udang selama ketersediaannya masih mencukupi bagi populasi udang di tambak tersebut. Kondisi seperti ini dapat diartikan sebagai berikut : jika udang menghadapi pilihan antara pakan buatan dengan pakan alami, maka yang akan dipilih terlebih dahulu adalah pakan alami yang ada di perairan tersebut
Beberapa manfaat dari pakan alami yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan program pakan antara lain :
• Ketersediaan pakan alami yang memadai terutama pada awal-awal tebar benur dapat mempertahankan tingkat kehidupan benur/udang muda di dalam tambak;
• Ketersediaan pakan alami yang memadai terutama pada awal-awal tebar benur dapat menghasilkan tingkat keseragaman udang di dalam populasi yang relatif sama atau tidak bervariasi;
• Ketersediaan pakan alami yang memadai terutama pada awal-awal tebar benur dapat menghasilkan pertumbuhan udang yang relatif cepat dari biasanya;
• Ketersediaan pakan alami yang memadai dapat mengurangi proses akumulasi kotoran dan lumpur di dasar tambak, karena penggunaan pakan buatan sebagai penyumbang kotoran terbesar relatif masih terbatas;
• Ketersediaan pakan alami yang memadai dapat menekan biaya produksi dari penggunaan pakan buatan sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap profit value yang nantinya akan diperoleh;
Salah satu parameter yang dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat ketersediaan pakan alami di dalam tambak adalah penampakan dan kemunculan udang di permukaan maupun ancho. Pada perairan tambak dengan persediaan pakan alaminya memadai atau melimpah proses penampakkan dan pemunculan udang relatif lebih lambat dibandingkan dengan perairan tambak dengan persediaan pakan alaminya sangat kurang. Keadaan ini terjadi karena udang lebih banyak beraktifitas di dasar perairan untuk mencari pakan alami yang dibutuhkan, sehingga jarang menampakkan/muncul dipermukaan air maupun ancho.
Sebaliknya jika penampakkan dan pemunculan udang di permukaan air maupun ancho relatif lebih banyak dari kondisi biasanya maka dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi bahwa ketersediaan pakan alami di perairan tersebut telah menipis atau bahkan telah habis sama sekali. Keadaan ini terjadi karena udang akan berusaha mencari pakan yang sudah jarang ditemukan di dasar perairan tambak dan aktifitas yang biasa dilakukan udang pada kondisi seperti ini adalah dengan melakukan konvoi di sekeliling tambak atau banyak muncul di dinding tambak.
Salah satu parameter lainnya yang dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat ketersediaan pakan alami di perairan tambak adalah melalui pengamatan warna feces udang yang terdapat di bagian usus maupun yang tertinggal di ancho. Feces udang yang berasal dari pakan alami biasanya berwarna kehitaman atau tergantung dari jenis pakan alaminya. Jika dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar udang memiliki warna feces kehitaman maka dapat dijadikan indikasi bahwa tingkat ketersediaan pakan alami di perairan tersebut masih memadai.
PAKAN IKAN
PAKAN IKAN
1. SEJARAH SINGKAT
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
2. SENTRA PERIKANAN
Selama ini produksi pakan ikan alami dilakukan oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan, atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa.
3. JENIS
1. Pakan Alami
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong
2. Pakan Buatan
Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.
1. Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30 hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.
2. Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.
3. Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
4. Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar.
5. Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat > 60-75 gram dan berumur > 120 hari.
6. Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dkeringkan, kemudian diremas- remas.
4. MANFAAT
1. Sebagai bahan pakan ikan, udang, atau hasil perikanan lainnya, baik dalam bentuk bibit maupun dewasa.
2. Phytoplankton juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya zooplankton.
3. Ulat Hongkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan hias, yang dapat mencermelangkan kulitnya.
4. Pakan buatan dapat melengkapi keberadaan pakan alami, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.
5. PERSYARATAN LOKASI
1. Chlorella: salinitas 0-35 ppt dan yang optimal pada 10-20 ppt, kisaran suhu optimal 25-30°C dan maksimum pada 40 ° C.
2. Tetraselmis: salinitas 15-36 ppt dan kisaran suhu 15-35 °C.
3. Dunaliella: salinitas optimum 18-22 % NaCl, untuk produksi carotenoid > 27% NaCl, dan masih bertahan pada 31% NaCl; suhu optimal 20-40 ° C, pH optimal 9 dan bertahan pada pH 11.
4. Diatomae: suhu optimal 21-28 ° C dan intensitas cahaya 1000 luks.
5. Spirulina: pH optimal 7,2-9,5 dan maksimal 11; suhu optimal 25-35 ° C; tahan kadar garam tinggi, yaitu sampai dengan 85 gram /liter.
6. Brachionus: suhu optimal untuk pertumbuhan dan reproduksi adalah 22-30 ° C; salinitas optimal 10-35 ppt, yang betina dapat tahan sampai 98 ppt; kisaran pH antara 5-10 dengan pH optimal 7,5-8.
7. Artemia: kisaran suhu 25-30 ° C dan untuk Artemia kering -273-100 ° C; kadar garam optimal 30-50 ppt, untuk menghasilkan kista: 100 permil; kandungan O2 optimal adalah >3 mg/liter dengan kisaran 1 mg/liter sampai tingkat kejenuhannya 100 %; pH optimal adalah 7,5-8,5 dan kadar amonia yang baik < 80 mg/liter.
8. Kutu Air: suhu optimal 22-31 ° C, dan pH optimal 6,6-7,4.
9. Cacing Tubifex: cacing tubifex menyukai perairan yang berlumpur dan banyak mengandung bahan organik.
1. SEJARAH SINGKAT
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus.
2. SENTRA PERIKANAN
Selama ini produksi pakan ikan alami dilakukan oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan, atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah. Sementara ini sentra produksi pakan ikan buatan berada di Jawa.
3. JENIS
1. Pakan Alami
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella; (b) Tetraselmis; (c) Dunaliella; (d) Diatomae; (e) Spirulina; (f) Brachionus; (g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong
2. Pakan Buatan
Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.
1. Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30 hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.
2. Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.
3. Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
4. Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar.
5. Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat > 60-75 gram dan berumur > 120 hari.
6. Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dkeringkan, kemudian diremas- remas.
4. MANFAAT
1. Sebagai bahan pakan ikan, udang, atau hasil perikanan lainnya, baik dalam bentuk bibit maupun dewasa.
2. Phytoplankton juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya zooplankton.
3. Ulat Hongkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan hias, yang dapat mencermelangkan kulitnya.
4. Pakan buatan dapat melengkapi keberadaan pakan alami, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.
5. PERSYARATAN LOKASI
1. Chlorella: salinitas 0-35 ppt dan yang optimal pada 10-20 ppt, kisaran suhu optimal 25-30°C dan maksimum pada 40 ° C.
2. Tetraselmis: salinitas 15-36 ppt dan kisaran suhu 15-35 °C.
3. Dunaliella: salinitas optimum 18-22 % NaCl, untuk produksi carotenoid > 27% NaCl, dan masih bertahan pada 31% NaCl; suhu optimal 20-40 ° C, pH optimal 9 dan bertahan pada pH 11.
4. Diatomae: suhu optimal 21-28 ° C dan intensitas cahaya 1000 luks.
5. Spirulina: pH optimal 7,2-9,5 dan maksimal 11; suhu optimal 25-35 ° C; tahan kadar garam tinggi, yaitu sampai dengan 85 gram /liter.
6. Brachionus: suhu optimal untuk pertumbuhan dan reproduksi adalah 22-30 ° C; salinitas optimal 10-35 ppt, yang betina dapat tahan sampai 98 ppt; kisaran pH antara 5-10 dengan pH optimal 7,5-8.
7. Artemia: kisaran suhu 25-30 ° C dan untuk Artemia kering -273-100 ° C; kadar garam optimal 30-50 ppt, untuk menghasilkan kista: 100 permil; kandungan O2 optimal adalah >3 mg/liter dengan kisaran 1 mg/liter sampai tingkat kejenuhannya 100 %; pH optimal adalah 7,5-8,5 dan kadar amonia yang baik < 80 mg/liter.
8. Kutu Air: suhu optimal 22-31 ° C, dan pH optimal 6,6-7,4.
9. Cacing Tubifex: cacing tubifex menyukai perairan yang berlumpur dan banyak mengandung bahan organik.
Langganan:
Postingan (Atom)