Rabu, 28 Juli 2010

PENGUJIAN CEMARAN BAKTERI DAN CEMARAN KAPANG/KHAMIR
PADA PRODUK JAMU GENDONG DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

IDENTIFICATION FOR BACTERIAL AND MOLDS/YEAST
CONTAMINATION OF JAMU GENDONG IN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Sylvia Tunjung Pratiwi
Laboratorium Mikrobiologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada


ABSTRAK

Pengujian kualitas mikroba pada sediaan jamu gendong di DIY telah dilakukan berdasarkan standar batas kontaminasi mikroba yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI. Jamu gendong merupakan salah satu jamu dalam bentuk cairan minum yang sangat digemari masyarakat. Jamu gendong dijual dalam botol dan diletakkan dalam keranjang yang digendong di punggung belakang menggunakan kain. Jamu ini dijajakan dari rumah ke rumah. Sampel jamu gendong diambil dari 20 pembuat jamu gendong dari 3 kabupaten dan 1 kotamadya di DIY. Sampel jamu gendong selanjutnya diuji angka lempeng total dan angka kapang/khamir total untuk mengetahui kontaminasi bakteri dan kapang/khamir. Dari hasil uji didapatkan bahwa hampir seluruh sampel jamu gendong terkontaminasi oleh bakteri dan kapang melebihi ambang batas konsumsi yang dipersyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 1992. Kontaminasi bakteri pada sampel jamu gendong sejumlah 2,34 x 103 CFU/ml hingga tak terhitung, dan kontaminasi kapang/khamir sejumlah 1,21 x 103 CFU/ml hingga tak terhitung.

Kata kunci: jamu, angka kapang/khamir total, angka lempeng total.

ABSTRACT

The reseach was conduced to identify microbiological quality of jamu gendong in DIY according to the requirements of microbial contamination in traditional medicine, issued by the Department of Health of Indonesia. Jamu gendong is sold by women in a bottled form inside the basket and traditionally they carry the jamu basket on their back with the help of a cloth sling. Jamu gendong sold daily by door to door vendors. Samples of jamu gendong were taken from producers in four districts of DIY. The samples were subjected to the following examinations: total plate count (TPC) and the enumeration of molds and yeast. The result of this investigation showed that most of the jamu gendong samples were heavily contaminated with bacteria, yeast and molds. For bacteria, taken from the TPC results, their numbers were ranging from 2.34 x 103 microorganisms/ml to too many to count. For yeast and molds the numbers showed variations from 1.21 microorganisms/ml to too many to count. The results also show that it is possible to have jamu gendong which fulfill the government’s requirements.

Key words: jamu, total enumeration of molds and yeast, total plate count.



PENDAHULUAN
Indonesia terkenal akan keanekaraga¬man jenis floranya. Para ahli memperkirakan bahwa jenis flora Indonesia tidak kurang dari 40.000 jenis yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dan baru kurang lebih 3000 jenis tumbuhan yang dapat diketahui potensinya dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohi¬drat, protein, lemak, vitamin maupun tumbuhan obat. Tumbuhan obat merupakan sumber daya alam hayati yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan digunakan secara luas oleh masyarakat khususnya kelompok masyarakat yang belum memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengobatan moderen (Anonim a, 2002).
Pemanfaatan obat tradisional pada umumnya lebih diutamakan sebagai preventif untuk menjaga kesehatan, meskipun ada pula upaya sebagai pengobatan suatu penyakit. Dengan semakin berkembangnya obat tradisio-nal, ditambah dengan imbauan di masyarakat untuk kembali ke alam (back to nature), telah meningkatkan popularitas obat tradisional (Santoso, 2000).
Salah satu kelompok obat tradisional adalah jamu. Jamu sudah dikenal di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sebagai sarana perawatan kesehatan sehari-hari maupun seba-gai sarana pemulihan kesehatan bila telah sembuh dari sakit. Ramuan yang ada di dalam jamu terdiri dari berbagai bagian tumbuh-tumbuhan yang saling bekerja sama membantu perawatan dan untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian penggunaan jamu sejak dahulu kala bermanfaat untuk preventif, pro-motif, kuratif dan rehabilitatif (Soedibyo, 2004).
Jamu gendong adalah jamu dalam bentuk cair yang dijual penjaja dalam botol yang diletakkan dalam keranjang yang digen¬dong di punggung belakang menggunakan kain. Jamu ini dijajakan dari rumah ke rumah (Anonima, 2002). Ada dua cara dalam pembuatan jamu gendong. Pertama dengan merebus semua bahan. Kedua dengan meme¬ras sari yang ada kemudian mencam¬purnya dengan air matang (Suharmiati dan Handayani, 1998).
Dalam proses pembuatan jamu gendong yang sederhana tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya pencemaran oleh mikroba, sehingga perlu dilakukan pengujian cemaran mikroba dalam jamu gendong di DIY. Pengambilan sampel jamu gendong dilakukan dengan mengambil sampel 20 produsen jamu gendong yang tersebar di 4 wilayah DIY. Uji cemaran mikroba, dalam hal ini bakteri dan kapang/khamir dilakukan dengan metode uji cemaran angka lempeng dan angka kapang/khamir total.
Setiap sediaan mensyaratkan batas angka bakteri dan kapang/khamir tertentu yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi, yaitu < 104 koloni per ml untuk kapang/khamir dan < 106 koloni per ml untuk bakteri (Anonimb, 1992). Hasil penghitungan angka lempeng total dan angka kapang / khamir total dibandingkan dengan standar uji cemaran mikroba SNI 19-2897-1992.

METODE PENELITIAN
Bahan: sampel jamu gendong yang diambil dari 20 produsen jamu gendong yang berbeda di 4 wilayah DIY (5 produsen dari Kabupaten Sleman, 5 produsen dari Kabupaten Bantul, 5 produsen dari Kabupaten Kulon Progo, 5 produsen dari Kotamadya Yogyakarta), media Plate Count Agar (PCA), media Potato Dextrosa Agar (PDA), kloramfenikol, media ASA (Air Suling Agar 0,05%), dan larutan fisiologis steril.

Alat: piring petri, tabung reaksi, labu Erlen-meyer, gelas ukur, blue tip dan yellow tip, pipet mikro, autoklav, inkubator, spreader glass.

Jalan Penelitian
Pembuatan seri pengenceran sampel
Sebanyak 1 ml sampel yang akan diperiksa dilarutkan dalam 10 ml larutan pengen-cer yaitu berupa larutan fisiologis steril untuk uji ALT dan media ASA untuk uji AKT. Dibuat seri pengenceran hingga 10-6 untuk uji ALT (cemaran bakteri) dan 10-4 untuk uji AKT (cemaran kapang/khamir).

Pengujian cemaran bakteri
Pengujian cemaran bakteri dari sampel jamu gendong dengan metode uji angka lempeng total dilakukan sebanyak 3 kali pengam¬bilan sampel, masing-masing dilakukan replikasi duplo. Sebanyak 1 ml suspensi hasil pengenceran sampel dituang ke dalam piring petri. Ke dalam setiap piring petri tersebut dituangkan media PCA steril yang telah dicairkan dengan temperatur media berkisar pada 40ºC. Sebagai kontrol digunakan media PCA dan larutan pengencer (larutan fisiologis steril). Piring petri selanjutnya diinkubasi pada temperatur 35-37ºC selama 24-48 jam dalam posisi terbalik. Penghitungan jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada media dilakukan sesuai cara penghitungan yang ditetapkan dalam prosedur operasional baku pengujian mikrobiologi oleh Badan POM.

Pengujian cemaran kapang/khamir
Pengujian cemaran kapang/khamir dari sampel jamu gendong dengan metode uji angka kapang/khamir total dilakukan sebanyak 5 kali replikasi. Media PDA steril yang telah dicairkan dan didinginkan pada temperatur 40ºC ditambahkan kloramfenikol sebesar 1ml/L, dan dituang ke dalam piring petri hingga membeku. Sebanyak 1 ml suspensi hasil pengen¬ceran sampel dituang pada permukaan media PDA yang telah beku dalam piring petri, yang mengandung kloramfenikol, dan diratakan dengan bantuan spreader glass. Sebagai kontrol digunakan media dan larutan pengencer (ASA). Piring petri selanjutnya diinkubasi pada temperatur 20-25ºC selama 3-5 hari. Penghitu-ngan jumlah koloni kapang/khamir yang tumbuh pada media dilakukan sesuai cara penghitu¬ngan yang ditetapkan dalam prosedur operasio¬nal baku pengujian mikrobiologi oleh Badan POM.

Analisis hasil
Hasil penghitungan angka lempeng total dan angka kapang/khamir total dibandingkan dengan standar uji cemaran mikroba SNI 19-2897-1992.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Angka Lempeng Total (ALT)
Pada pengujian ini akan diketahui seberapa besar cemaran bakteri pada sediaan jamu gendong di DIY. Metode yang digunakan adalah metode uji angka lempeng total, dengan menghitung koloni bakteri pada serial pengenceran sampel jamu. Hasil pengujian ini akan dibandingkan dengan standar standar uji cemaran mikroba SNI 19-2897-1992.
Dari hasil perhitungan jumlah konta¬minasi bakteri melalui uji angka lempeng total dari sampel-sampel jamu gendong dari 5 produsen jamu gendong di Kabupaten Sleman DIY diketahui bahwa hanya sampel pertama dari produsen B dan sampel ke tiga dari produsen D yang menunjukkan jumlah angka kontaminasi bakteri melebihi standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu sebesar < 106 CFU/ml. Pada sampel pertama produsen B diketahui bahwa jumlah kontaminasi bakteri adalah sebesar 1,5965 x 106 CFU/ml dan pada sampel ke tiga produsen D diketahui bahwa jumlah kontaminasi bakteri adalah sebesar 1,2805 x 106 CFU/ml.
Dari hasil perhitungan jumlah kontami¬nasi bakteri melalui uji angka lempeng total dari sampel-sampel jamu gendong dari 5 produsen jamu gendong di Kabupaten Bantul DIY diketahui bahwa pada hampir semua sampel dari produsen jamu menunjukkan jumlah angka kontaminasi bakteri melebihi standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu sebesar < 106 CFU/ml.
Dari hasil perhitungan jumlah kontaminasi bakteri melalui uji angka lempeng total dari sampel-sampel jamu gendong dari 5 produsen jamu gendong di Kabupaten Kulon Progo DIY diketahui bahwa pada hampir semua sampel dari produsen jamu (produsen A, B, C dan E) menunjukkan jumlah angka kontaminasi bakteri melebihi standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu sebesar < 106 CFU/ml.
Dari hasil perhitungan jumlah kontami¬nasi bakteri melalui uji angka lempeng total dari sampel-sampel jamu gendong dari 5 produsen jamu gendong di Kodya Yogyakarta DIY diketahui bahwa pada sebagian sampel dari produsen jamu (produsen A, B, dan C) menunjukkan jumlah angka kontaminasi bakteri melebihi standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu sebesar < 106 CFU/ml.
Besarnya jumlah koloni bakteri pencemar dalam sediaan jamu tersebut dapat disebabkan selain akibat proses pembuatan jamu yang kurang memperhatikan unsur sanitasi dan higien, dapat pula diakibatkan oleh adanya kontaminasi mikroba udara pada saat pengemasan atau penjualan. Pengaruh faktor lokasi penjualan jamu gendong juga dimungkinkan. Beberapa penjual jamu gendong menjual jamu gendongnya di area yang tidak higienis seperti pada pasar tradisional yang memungkinkan banyak terjadinya kontaminasi jamu dari mikroba udara.

Uji Angka Kapang/Khamir Total
Pada pengujian ini akan diketahui sebe-rapa besar cemaran kapang/khamir pada sediaan jamu gendong di DIY. Metode yang digunakan adalah metode uji angka kapang/khamir total, dengan menghitung koloni kapang/khamir pada serial pengenceran sam¬pel jamu. Hasil pengujian ini akan dibandingkan dengan standar standar uji cemaran mikroba SNI 19-2897-1992.

Tabel 5–Perhitungan angka kapang/khamir total jamu gendong produsen di Kabupaten Sleman
Produsen Rerata Sampel (CFU) / ml
1 2 3
A 21.200 * 850.000* 118.000*
B 12.100* 8.400 54.000*
C 1.300 20.100* 1.560
D 94.000* 66.000* 2.380
E 91.000* 100.000* 76.000*
Keterangan * = melebihi ambang batas kontaminasi kapang/khamir standar SNI 19-2897-1992 sebesar < 104 CFU / ml

Dari hasil perhitungan jumlah kontami¬nasi kapang/khamir melalui uji angka kapang/khamir dari sampel-sampel jamu gen¬dong dari 5 produsen jamu gendong di kabupaten Sleman DIY diketahui bahwa pada hampir seluruh sampel dari produsen jamu (produsen A, B, C, D dan E) menunjukkan jumlah angka kontaminasi angka kapang/khamir melebihi standar batas kontami¬nasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu sebesar < 104 CFU/ml.
Dari hasil perhitungan jumlah kontami¬nasi kapang/khamir melalui uji angka kapang/khamir dari sampel-sampel jamu gendong dari 5 produsen jamu gendong di Kabupaten Bantul DIY diketahui bahwa pada seluruh sampel dari produsen jamu A dan B menunjukkan jumlah angka kontaminasi angka kapang/khamir melebihi standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu sebesar < 104 CFU/ml.
Dari hasil perhitungan jumlah kontaminasi kapang/khamir melalui uji angka kapang/khamir dari sampel-sampel jamu gendong dari 5 produsen jamu gendong di Kabupaten Kulon Progo DIY diketahui bahwa pada seluruh sampel dari produsen jamu gendong B dan E, serta sebagian sampel dari produsen jamu gendong A, C dan D menunjukkan jumlah angka kontaminasi angka kapang/khamir melebihi standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu sebesar < 104 CFU/ml.
Dari hasil perhitungan jumlah kontami¬nasi kapang/khamir melalui uji angka kapang/khamir dari sampel-sampel jamu gendong dari 5 produsen jamu gendong di Kotamadya Yogyakarta diketahui bahwa pada hampir seluruh sampel dari produsen jamu A, B dan D menunjukkan jumlah angka kontaminasi angka kapang/khamir melebihi standar batas kontaminasi bakteri yang masih dianggap aman untuk dikonsumsi pada obat tradisional sesuai yang disyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu sebesar < 104 CFU/ml.
Besarnya jumlah koloni kapang/khamir pencemar dalam sediaan jamu tersebut dapat disebabkan selain akibat proses pembuatan jamu yang kurang memperhatikan unsur sanitasi dan higien, dapat pula diakibatkan oleh adanya kontaminasi mikroba udara pada saat pengemasan atau penjualan. Jamu gendong umumnya dikemas dalam botol-botol baik yang terbuat dari kaca ataupun plastik. Kurangnya kebersihan dari botol ataupun tempat minum dari jamu gendong tersebut sangat mem-pengaruhi besarnya jumlah kontaminan mikroba pada produk jamu gendong.
Pengaruh faktor lokasi penjualan jamu gendong juga sangat mempengaruhi besarnya kontaminasi. Selain menjual jamu gendong dengan menawarkannya dari rumah ke rumah melewati jalan yang berdebu, beberapa penjual jamu gendong menjual jamu gendongnya di area yang tidak higienis seperti misalnya pada pasar-pasar tradisional yang memungkinkan banyak terjadinya kontaminasi dari mikroba yang terdapat di udara.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh sampel jamu gendong yang didapat dari produsen-produsen jamu gendong di DIY terkontaminasi oleh bakteri dan kapang/khamir dengan jumlah kontaminan yang melebihi ambang batas konsumsi, yaitu sebesar <106 CFU (Colony Forming Unit) per ml untuk bakteri dan <104 CFU/ml untuk kapang/khamir.
Kontaminasi dapat terjadi dari proses awal pembuatan jamu, yaitu melalui proses penyiapan simplisia yang tidak higienis hingga proses distribusi dan penjualan pada konsumen, dimana faktor lingkungan, terutama area penjualan yang tidak higienis memberikan peran cukup besar pada kontaminasi jamu gendong oleh mikroba yang terdapat di udara.

DAFTAR ACUAN
Anonima, 2002, Green Health: Indonesia, Jamu Project, http://www.unesco.or.id/apgest/pdf/in–donesia/bp-gh-ri-pdf. 20 April 2005

Anonimb, 1992, Prosedur Operasional baku Pengujian Mikrobiologi. Pusat Pemeriksaan Obat dan makanan. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI, 14–15, 21–25

Santoso, S.S., 2000, Penelitian Manfaat Pengobatan Tradisional untuk Penyembuhan Penyakit Tidak Menular, JKPKBPPK/Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, http://digilib.litbang.depkes.go.id 19 April 2005

Soedibyo, M., 2004, Jamu, Obat Sepanjang Zaman, http://www.tokohindonesia.com/ensiklo–pedi/m/mooryati-soedibyo/opini.shtml 18 April 2005

Suharmiati dan Handayani, L., 1998, Bahan Baku, Khasiat dan Cara Pengolahan jamu Gendong: Studi Kasus di Kotamadya Surabaya, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan kesehatan, Departemen Kesehatan RI, http://www.tempo.co.id/medika/arsip/052001/art-1.htm 18 April 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar